May 17, 2013

Seperti Itu...

"kau lihat awan hitam yang bergolak di atasmu?"
aku mendongak sesegera mungkin. mencari awan itu.

ku lihat sekumpulan awan abu-abu gelap menaungi diriku, seperti akan menjatuhkan hujan tepat di atas kepalaku.
dadaku berdesir melihatnya.
aku takut, hujan.

"akan hujan"
ku jatuhkan diriku di atas trotoar. ku cengkeram kuat-kuat ujung bajuku lalu ku gigit.
rasanya ngilu.
kau tahu bagaimana rasanya ngilu mampir ke dalam gigimu ketika segumpal es batu kau coba gigit kuat-kuat?

ya seperti itulah.
bedanya yang ngilu dadaku, di dalam dadaku ada sesuatu seperti gigi yang bisa ngilu.



aku tidak membawa payung, ataupun mantel hujan.
"kau akan kehujanan"

aku tidak mau kehujanan atau pun hujan turun!
satu bagian nyawaku akan menguap kalau tubuhku sampai terjamah hujan, lagi.


kau seperti kertas gambar yang dihiasi lukisan, yang takut terkena air hujan. 


ku pandang kiri - kananku.
tak ada jajaran pohon besar sama sekali untukku melindungi diri.
tempat ini tak berpenghuni. sepi.

tidak ada sebatang rumput liar pun yang tumbuh di sini.
gersang.



"kau dimana?"



di suatu tempat yang tidak ada seorang manusia atau tumbuhan tumbuh, hidup.




aku bergidik.




aku sendiri.
lagi.



hujan sebentar lagi turun. dan aku masih belum tahu kemana harus ku teduhkan tubuhku yang sudah menggigil duluan.
rasanya sudut mataku sudah berkedut. seperti awan hitam di atas sana yang juga tengah bergejolak.


"kau tidak boleh menangis!"




dan langit tidak boleh hujan!
seperti itu kah?

Read more »

May 8, 2013

Sepuluh

Kunang - kunang melerai bayangan prosa. 

Ia ceraikan selarik puisi yang saling menyiratkan rasa. 

Ia pegang kendali hati keduanya. 

Sampai subuh esok tiba....
Read more »

Tak Bisa Melihat

"aku tak bisa melihat"
"hei, kau masih punya mata"
"tapi aku tak bisa melihat dengan benar. tolong lihatlah lagi mataku"

*

kau menangis. kau sedang kesakitan, tapi kau berusaha membantahnya. kau berusaha tegar, tapi kau gagal.
kau tersedu, tapi mulutmu mengatup rapat. tak ada suara gaduh yang muncul dari sana. tenggorokanmu seperti ditendang. dadamu seperti dijejali batu-batuan kasar.
kau sakit.

kau bisa melihatnya.

kau hanya berpura-pura buta. kau berusaha mengabaikan sesuatu yang jelas-jelas kau rasakan. kau menikmati kesedihan itu. kau membiarkannya bersemayam dalam damai yang sebenarnya hanya sebuah kamuflase belaka. kau menyembunyikan itu.

kau berpura-pura bahagia. kau terlalu pengecut karena tak membiarkan lidahmu bicara jujur apa adanya. kau takut, kau takut, kau hanya takut menerima kenyataan yang belum tentu bakal semenyedihkan sebelumnya.

kau masih punya mata. mata hatimu masih bisa melihat dan membaca. dia tidak pernah tidur, dia bekerja tanpa jeda. kau hanya berpura-pura tak melihat.
betul kataku, kau munafik. kau mempecundangi dirimu sendiri.
sebenarnya kau butuh, sebenarnya kau ingin, namun kau masih takut berdiri lagi di tempat yang sama dengan orang yang berbeda. kau takut jika sisa sakit yang tertinggal di tempat itu kembali kau rasakan, sehingga kamuflase ingin hidup sendirian jadi bahan leluconan.

kau tidak bersungguh-sungguh untuk terus sendiri. aku bisa melihat itu di matamu. kau tidak bisa membohongiku sekalipun matamu kau tutupi dengan sehelai sutera biru. aku adalah bagianmu, aku adalah separuh ruhmu, aku adalah jiwamu yang lain.

apa kau tidak pernah sadar jika tubuhmu dihuni dua makhluk yang tidak pernah menidurkan diri?
aku kenal benar saudaraku yang punya mental pecundang yang sekarang merasuki dua per tiga tubuhmu. aku tahu bagaimana perangainya.

hei, apa kau tidak mengenaliku? kau tidak bisa melihatku dengan benar? apa kau tidak merasakan kehadiranku ketika gelap tiba?
aku adalah sisi baikmu. dan dia adalah sisi burukmu.
bukankah kau selalu mengatakan jika setiap orang selalu diciptakan dengan dua sisi berbeda? ya, baik dan buruk. dia buruk, dan aku baik.

apa kau tidak ingin mendengarkan nasehat dari teman baikmu ini? jika kau ingin menutup telingamu dengan memutar musik sekencang mungkin, silakan. aku akan membisikkannya lewat hati. aku tahu hatimu akan bekerja lebih dari telinga.

dengarkan ini baik-baik, NAK.
jangan takut...jangan membohongi dirimu sendiri...jangan...sebab kau akan merasakan sakit itu sendiri. lakukanlah......nikmati perjalananmu itu.
jangan tutup matamu, jangan biarkan kau buta. jangan kau biarkan diirmu sendiri kehilangan sesuatu yang sudah Tuhan berikan.
aku tahu kau pandai, NAK. aku tahu kau masih bisa melihat dengan benar, hanya saja mungkin saudara burukku kadang terlalu cerewet sampai berhasil membuatmu terpuruk seperti itu.


kau masih bisa melihat dengan benar, NAK.

Read more »

May 6, 2013

Sama Saja

"sama saja"
"apanya?"
"otaknya"
"maksudnya? kapasitas otak? bukankah tiap orang berbeda?"
"bego! bukan kapasitas"
"lantas?"
"cara mereka berpikir"

*

diam saja. lidahku sukses bersekongkol dengan hati. kepalaku juga sepertinya mengiyakan isi hati yang menolak untuk diajak kerja sama. sudahlah, biarkan saja. mari bersantai di bibir pantai demi menikmati sepoi angin yang tak kau temukan di tengah metropolitan.

hmmm, anggap saja mereka sekumpulan paduan suara dengan kualitas suara bebek yang tengah mengoceh asal-asalan di hadapanmu. anggap saja angin PHP yang terkadang muncul di tengah terik siang yang ganas. selow lah...woles rek.


jujur, sebenarnya aku tidak mau banyak berkomentar. aku hanya ingin diam pada pandangan-padangan menggelikan itu. namun, setidaknya aku harus membuat sedikit pembelaan, kan? ya seperti para tersangka yang didudukkan di kursi pesakitan itu. hanya bedanya, aku tidak perlu pengacara.



setiap orang dilahirkan tidak dengan sempurna, bukan? dia punya kelebihan-kekurangan, kebaikan-keburukan. namun, pada dasarnya mereka baik. tanamkan itu di kepalamu, NAK. mereka punya hati nurani, sekecil apapun itu. tidak ada manusia yang mbrojol dari rahim ibunya dengan sifat yang sepenuhnya jelek. tidak ada, NAK. tidak ada.


jika teori ketidaksempurnaan itu sudah tertanam di kepalamu, kenapa musti memberikan tuduhan semenggelikan itu padaku? kau pikir aku benar-benar jalang seperti perempuan-perempuan di pinggir jalan itu, NAK?




aku mau tertawa ah. hahahaha




kau pikir dunia malam selalu identik dengan perempuan-perempuan jalang?
lulusan apa sih kau ini? umurmu sama sekali tidak menunjukkan kualitas isi kepalamu. cara berpikirmu seperti ABG yang baru saja naik kelas dua SMP.



ya sudahlah ya...namanya juga manusia biasa, pasti punya segudang pandangan menggelikan, termasuk tuduhan-tuduhan tak masuk akal.
silakan, intinya silakan memberiku tuduhan bermacam-macam. aku santai saja.
Tuhan tahu kok, Dia Maha Tahu atas segalaku.
kamu tidak bisa membaca pikiranku, kan? NAH. belajar menghargai orang dulu sana. masuk SD lagi gih.



rupanya, ya sama saja kan ya! isi kepalanya sama!
baca ini: aku suka, bukan berarti jalang, NAK!


Read more »

May 1, 2013

Rupanya

"aku cemburu, ternyata"
"oh ya?"
"pada siapa?"
"siapapun yang dekat denganmu"

*

dalam satu bidang yang sama, kotak yang sama, dinding yang sama, dan tubuh yang sama. kita saling berpandangan, namun mata kita tidak saling menunjuk arah yang sama, hati. semuanya terlihat beku, aku merasakannya. ya, tidak ada cinta di dalam ruangan itu.

cinta? masihkah dia hidup setelah kubakar habis-habis rumahnya beberapa bulan lalu? masihkah ada nyawa tersisa di dalamnya?

aku ingin mengelak. menahan perasaan yang berkecamuk seperti cambuk. aih, ingin ku tinju matamu yang hitam kecokelatan itu. ingin ku tampar wajahmu yang tanpa dosa memburu dadaku sepanjang napasku malam ini, nis.

kita memang tidak pernah bisa bertemu dalam satu titik koordinat penuh. kita selalu berseberangan sekalipun kedua tangan kita saling bergandengan. sekalipun tubuh kita membentuk satu refkesi yang sama. sekalipun napas kita saling bersahutan dalam diam.

sekalipun dalam dekapan, tetap saja tak ku dengar debar jantungmu yang seperti diburu. aku tahu....aku tahu... aku tahu kenapa bisa begitu.



aku cemburu pada sesuatu itu. sesuatu yang dengan mudahnya bisa kau suguhkan senyum sumringah. aku cemburu, nis.
hatiku berkata cemburu nis...hatiku bilang ini ada apa-apanya, nis.

ya, kan? kau sedang mendekati sesuatu itu. ah tidak, mendadak hatiku seperti dijamah belati besi terpanggang api. sakitttt....




aku telah menguasai semuamu, tapi tetap saja hatimu bisu. rasanya seperti sia-sia. ya, semuanya sia-sia. perjalanan panjang yang kulakukan rupanya sama sekali tak dapat mengetuk pintu hatimu yang...beku? bekukah hatimu untukku, nis?

sesuatu idamanmu....itu ya nis? aku cemburu.



entah nis, aku masih beranggapan bahwa kau bisa menerimaku,lagi. lagi? itu bodoh...


tapi aku suka....aku masih menyukaimu



kau hanya menyukai raganya yang rupawan, tubuhnya yang menawan. bukan hatinya yang tampan.





tapi kenapa harus cemburu?

sebab obsesi adalah isi di kepalamu.



Read more »

Terima Kasih

aku lelah. sepertinya sudah tidak punya kekuatan untuk melangkah ke arahnya. aku hanya ingin mengabdi pada sesuatu selainnya. sesuatu yang mendekatkanku pada yang lain, bukan padanya. dan menghabiskan sisa-sisa waktu yang berharga bersamanya.

sudah ku cukupkan halamanku untuknya, sudah ku penuhkan coretan hitam dalam buku terakhirku. dan sekarang adalah masa yang tepat untuk berganti buku, berganti halaman baru, untuk menanggalkan semua kisah dan memulai sesuatu yang baru. aku ingin duduk manis di pangkuannya, bergelayut manja seperti anak TK.

penghakiman atas kelakuan lamaku telah ku terima dengan lapang dada. telah kubiarkan mereka menjadikanku tokoh antagonis dalam ceritanya, seorang perempuan jalang dengan banyak pasangan, di masa silam, ku biarkan.

tak akan ku ganggu mereka dengan segala simbol perangnya, aku hanya akan diam di tempat, memandang mereka dengan banyak senyuman, sekalipun mereka menghunuskan doa mematikan, memberikan kutukan menyesatkan.

aku tidak akan kembali, tidak akan lagi ku jatuhkan diriku ke dalam jurang yang sama, sekalipun jurang itu penuh bunga-bunga merah segar dan air terjun menyegarkan. aku lebih memilih diam di tempat yang penuh duri atau lari ke depan sekalipun jalan begitu menyiksa kaki telanjangku.

kehilangan kesempatan, penyesalan hanyalah bagian dari skenario terbaikNya. nanti, suatu saat nanti jika ku temukan diriku menangis karena kehilangan kesempatan dan peluang, aku hanya akan kembali padaNya dan berkata bahwa semua akan baik-baik saja, tidak ada hal positif yang tidak bisa dipetik dari sana. dan jika banyak orang bilang "kau kehilangan satu terbaiknya," aku akan dengan senang hati berkata "terbaik hanya milik sang Penyempurna. semua orang baik. semua orang diciptakan dengan kebaikan, sekalipun dia tak sesempurna sebelumnya. pilihanNya adalah takdir sepanjang masaku dan aku tidak akan menyesal."

sekarang aku hanya merasa bahwa padangku telah disinari banyak matahari, tidak lagi gulita seperti sebelumnya, tidak lagi ada kesia-siaan seperti waktu dia menjadi setir dalam duniaku. aku bahagia, sekalipun banyak cibiran yang mampir dan hinaan tersirat dari gurauan yang mungkin mereka sengaja. tidak apa-apa. memang ada banyak cobaan ketika seseorang ingin berubah menjadi lebih baik, tidak sedikit yang meragukan dan membuat cibiran, tidak apa-apa karena aku jauh dari sempurna dan tidak akan pernah jadi sempurna. aku manusia biasa, di hadapanNya, dengan segudang dosa.

aku hanya mau berterima kasih...terima kasih atas segala pelajaran berharganya, segala pengalaman baik dan buruknya yang menjadikanku seorang yang lebih waspada, seorang yang lebih pandai mengendalikan hati dan perasaannya. 
Read more »

April 30, 2013

Perempuan Tanpa Pasangan

kau akan tahu bahwa perempuan tanpa pasangan bukanlah seorang yang tidak bisa mendapatkan pasangan. perempuan tanpa pasangan bukanlah sebuah status yang disengaja, bukan sebuah aib, bukan juga nasib, tapi itu adalah pilihan hidupnya sendiri.

ia hanya ingin mengabdi pada sesuatu selain pasangan. pada cinta yang tidak bisa dia dapatkan kembali mungkin? atau pada anak-anak yang dia lahirkan tanpa bapaknya mungkin? pada orang tuanya mungkin? atau pada waktu yang akan membawanya pada cinta terakhirnya nanti? atau pada kesempatan yang mengizinkannya sendiri tanpa pendampingan? atau....mengabdi pada hal lain?

perempuan tanpa pasangan berdiri dengan banyak definisi. ia mengabdi pada sesuatu yang ia kehendaki. tidak ada batasan. tidak ada aturan untuk menjadi bagian darinya. salah satu perempuan tanpa pasangan di sini adalah aku, tentunya. perempuan konyol yang berani memproklamirkan diri sebagai perempuan tanpa pasangan yang (pura-pura) bahagia, ralat, yang benar-benar bahagia namun diam - diam tetap mendambakan.

dan berikutnya nanti akan ku bagi banyak kisah tentang beberapa gelintir perempuan tanpa pasangan yang ku temui lengkap dengan dunianya masing-masing, dunia yang unik, dunia yang hebat, dunia yang indah, dunia yang tidak dimiliki oleh mereka yang punya pasangan dalam bentuk sebuah cerita pendek.

mereka punya bahagia yang tidak bisa diterjemahkan oleh para manusia yang memiliki pasangan. mereka punya kisah, punya cerita perjuangan yang tidak dimiliki orang lain. jangan pernah menganggap bahwa hidup mereka tidak sempurna karena tidak punya pasangan. ketahuilah, sempurna bukan terletak pada kita punya pasangan atau tidak. tapi sempurna adalah sejauh mana kebahagian muncul dari dalam diri. itu saja.




Read more »

Gersang

"gersang"
"baru saja hujan, gersang dimananya? tanahnya basah"

**

hujan baru saja turun. dia melihat dengan begitu takjubnya seperti seorang anak kecil yang rindu lari-lari di bawahnya. aku melihatnya menendang-nendang pancuran air dari atap rumah. dia seperti ingin menjamah hujan dengan segera. dan sebelum dia terjun ke dalam guyuran hujan, ku tarik lengannya.

"apa yang akan kau lakukan?" tanyaku tiba - tiba.
"aku mau hujan - hujan," jawabnya sambil mengulas senyum. deretan gigi-gigi timunnya terpampang jelas di depan mataku.

sudah ku duga. dia ingin bermain hujan. seperti orang-orang itu.

"jangan!" aku melarangnya.
dia melotot ke arahku. dahinya mengerut.
"kenapa?"
"kau akan sakit"
"enggak!"
"sudah kubilang jangan!" aku berteriak.

jujur. aku sangat tidak menyukai hujan. ada banyak hal menyakitkan yang lahir darinya. dan aku tidak mau laki-laki ini membuka salah satu kenangan itu.

"kau kenapa?" tanyanya tiba - tiba.

rupanya dia menangkap ekspresi sedih dari wajahku. apakah dia tahu tentang apa yang ku pikirkan? aku ingin bilang padanya kalau aku sedang tidak baik-baik saja. namun aku tidak bisa membagi itu dengannya sekarang.

"tidak apa-apa" jawabku asal.



"kau tidak menyukai hujan?" laki-laki ini seperti bisa membaca mataku. bukan aku tidak suka hujan. manusia mana yang tidak suka hujan tiba di saat gersang di beberapa bulan belakangan terasa sangat memuakkan? aku hanya tidak ingin melihat hujan....sekarang.

aku tidak memberikan jawaban. aku hanya menghela napas panjang di depannya kemudian berlalu dari hadapannya. meninggalkan dia dengan beberapa pertanyaan.







"apa istimewanya hujan?" tanyaku tanpa memutar tubuhku.
"hujan??" dia balik bertanya.
"hmmm......."


"hujan adalah surga" balasnya singkat.
"surga?"
"iya"


"apakah ada surga yang gersang?" tanyaku.
"tidak ada"
"kalau begitu kenapa hujan kali ini terlihat gersang?"

"he????"



Read more »