October 2, 2011

Over Protective

Hidup ini jadi gak eksis...

Sedang berkerumun dengan kawan-kawan seperjuangan di kantin kampus, tiba-tiba ada yang mencengkeram lenganku kuat-kuat. Aku menoleh hendak memaki itu orang. Deg. Mati aku. Saktian. Aku tepuk jidatku dan menggeleng resah seperti memohon pengampunan.
"kamu ini, udah dibilangin abis kuliah kelar jangan kemana-mana, nemeni aku latihan badminton. Aku cari-cari eh ternyata ngobrol gak jelas sama mereka"
Hiyak. Aku mendelik, menggigit bibir bawahku. Duh, kena semprot. Lalu aku menyeret lengan kokoh Sakti. Menyingkirkannya dari bisik dan tatapan tak suka dari teman-temanku.
"Sakti...bukannya tadi aku udah sms kamu ya kalau aku mau ngomongin masalah tari sama BPH-BPH UKM?"
"Alasan doank. Ayo!" Sakti langsung mengambil tas selempangku dari meja makan dan bergerak pergi meninggalkanku yang masih bengong, di tempat.
"ngapain lagi sich Cha?"suara Sakti meninggi di jarak 3 meter. Membuat wajahku harus segera disembunyikan. Malu gilak dilihatin banyak orang. Lalu aku bergerak ke meja, memberikan alasan ke teman-temanku. Sungkan dan tak enak hati rasanya harus meninggalkan janji dengan mereka. Salah seorang dari mereka mengangguk mengiyakan, dan malah sangat terlihat bersimpati atas nasibku, mungkin lebih tepatnya kasihan.
"gak apa-apa Cha, pergi sana. Nanti kita kabari hasilnya"

Sedang jalan-jalan bersama Sakti di sebuah mall. Digenggamnya erat tanganku. Tubuhnya nempel macam perangko. Saat hendak masuk ke toko kaset, aku tak sengaja bertemu Ardian, temanku SMA.
"Ardian???" aku menunjuk wajahnya dengan tatapan bertanya, sekedar memastikan keterkejutanku.
"Icha???" Ardian tak kalah kaget, refleks menunjuk wajahku juga.
"Gila ya, bisa ketemu kamu di sini. Apa kabar?" aku segera melepaskan genggam tangan Sakti dan mengulurkan tangan kananku ke Ardian. Aku melihat Sakti sedikit cemberut.
"baik Cha. Kamu gimana? ini siapa Cha? cowokmu?" Ardian membalas uluran tanganku dan menunjuk Sakti.
"salamannya udah belum Cha?" Saktian melepas paksa salamanku ke Ardian. Dilihatnya Saktian dengan tatapan aneh. Lalu aku sempat ngobrol ngalor-ngidul dengan Ardian dan mengacuhkan Sakti yang mematung di sampingku sebelum Ardian berpamitan untuk pergi menjemput ceweknya.
"obrolan gak penting" komentar Sakti saat kami sudah duduk di foodcourt.
"kenapa sich? ya wajar kalau udah lama gak ketemu temen, pasti obrolannya kaya' gitu..."balasku sambil menyeruput lemon tea.
"tapi gak dengan nyuekin aku kaya' gitu kan Cha?" Sakti melotot.
"salahmu juga gak sok akrab sama Ardian"
"salahku??? wajar donk kalau aku gak suka cewekku ngobrol asik sama cowok lain sedangkan pacarnya ada situ" nada bicara Sakti meninggi, dan itu tandanya dia sedang cemburu. level emosinya naik ke posisi 6. Gawat kalau mencapai 7 atau 8.
"ya dech. aku yang salah" ucapku sambil memainkan bibirku, lalu aku berpaling memandang sekitar.
"Cha, aku gak suka ya kamu lihat-lihat cowok lain kaya' gitu!"
"ya Ampun Sakti...yang lihat mereka itu siapa sich?"
"matamu itu loh, dijaga. Gak nganggap aku ada ya Cha?" Sakti melotot, rahangnya mengotot, marah.
"huft........gak sayang........." aku berusaha menahan emosi, mengalah, kalau aku ikut naik nanti bakal runyam masalahnya, terjadi perang dunia ke tiga, mungkin.

Di ruang UKM seni tari sedang rapat. Sedang serius-seriusnya HPku bunyi. Membuat yang lain menoleh ke arahku. Sorry. Aku memasang wajah minta maaf ke arah mereka. Saktian sms.
"Dari Sakti ya Cha?" tanya Tiar.
"iya..."aku berbisik


"yank...lagi dimana? ngapain? sama siapa?"
----
"camp tari. rapat. tmn2."
----
"kok gitu doang sich jawabnya?"
Ya ampun Sakti,,,,,kamu mau jawaban kaya' gimana sich? gerutuku dalam hati, setengah jengkel aku banting HPku di gundukan kertas di depanku. Itu membuat teman-temanku menatapku heran. Omigosh. Gak apa-apa. Aku mengisyaratkan semua baik-baik saja dengan memasang tanda ok dengan tangan kananku.
"maunya aku jawab kaya' gimana sich? aku lagi rapat sayang....ntar aja ya smsnya"
----
Ringtone Hush Hush Taeyeon menggegerkan ruangan itu. Aku menggigit bibir bawahku. Mati. Sakti telpon. Lalu dengan wajah memelas aku memohon izin keluar ruang sebentar
"halo...iya Sakti sayang, ada apa ? maaf ya...lagi rapat yank...ntar aku hubungi lagi kalau rapatnya udah"
"gitu ya...rapat lebih penting dari aku. Aku gamau tau. Lima menit lagi nyampek sana. Keluar!!"
Klik. Bunyi telpon terputus. Sial. Aku mengumpat.
Arch...aku mengacak-acak rambutku.
"kenapa Cha?" Tiar menjulurkan kepalanya dari dalam.
"biasalah Yar, kaya' gatau Sakti aja?" aku mendengus kesal.
"kok masih betah sich pacaran sama cowok macam Sakti? OP banget"
"apa itu?"
"over protective"
"oh...karena cinta mungkin?"jawabku asal-asalan.
"hahaha....cinta buta. Makan tuh cinta Cha" tiar tertawa lebar.

Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Gila ya. Aku ingat-ingat ini adalah tahun ke dua aku berpacaran dengan cowok OP macam Sakti yang terus-terusan sms nanyain aku lagi apa sama siapa, nelpon tanpa jeda kecuali tidur, yang ngelarang aku jalan sama temen-temen cewekku, yang nglarang aku ngobrol sama temen-temen cowokku, yang slalu minta aku ada buat nemein dia kemana-mana, yang membuat tingkahku begini salah begitu salah. Hiks....
Kok ya betah? Apa benar karena cinta? Arch....tau dech. Dan sialnya lagu Over Protective-nya Rini Idol terdengar nyaring dari ruang sebelah, ruang UKM paduan suara. Damn. Semakin membuatku gila. Nyindir banget sich ini lagu ?

over over protective...diriku bagai di penjara...
over over protective...jadi makan hati ini...
over over protective...hidup ini jadi gak eksis...
over over protective....aku pusing gila..aaaaa
Read more »

Don't Say Goodbye

Didedikasikan untuk mantan terindah : Yogi Maulana A

If you go away, you will see me cry, baby don't you let me go....

Ditatapnya bola mata pekat laki-laki yang tengah duduk di depannya dengan gemas. Rahangnya mengeras. Telinganya seperti mengeluarkan asap panas. Matanya berkilat, marah.
Sudah hampir setengah jam dan mereka belum bicara. Hanya bunyi ponsel masing-masing yang kadang mengusir canggung.
Satu sama lain sebenarnya tak pernah mengerti tentang pertemuan tak terencana ini, hanya saja ada satu hal yang harus segera mereka selesaikan. Dan itu tidak bisa ditunda.


Yang Maura tahu, malam ini akan ada penyelesaian dari perang dingin yang mereka kibarkan sejak seminggu lalu. Pertengkaran yang tak tahu kapan mula dan sebabnya itu membuat segalanya bertambah buruk, semakin rumit. Ditambah lagi sikap Natan yang membuatnya geregetan, mengacuhkan sms dan panggilan-panggilannya.

Dan kali ini Maura tahu apa yang harus dilakukannya pada Natan. Namun, sebelum Maura membuka suara, Natan mendahului dengan suara dehem yang dalam.
"ehm...aku mau bicara Ra" Natan tidak mau melihat mata Maura, dan Maura tahu ada yang Natan sembunyikan darinya.
"iya, aku sudah siap Nat, apapun keputusan kamu aku siap" Maura menghela napas, berusaha mengatur detak jantungnya yang telah naik turun dari tadi. Maura melihat Natan dengan gusar. Maura tidak mau menangis. Tidak untuk malam ini.

"kita putus aja ya Ra...." deg. Mata Maura membulat tak percaya. Maura menegak ludahnya sendiri. Jantungnya bergemuruh. Maura tidak menyangka sama sekali kalau Natan akan mengatakan ini.
"siapa wanita itu Nat?" Maura mencengkeram kuat-kuat pinggiran meja duduknya dan Natan tahu apa yang harus dilakukan, Segera dipegangnya tangan dingin Maura, lalu mengusapnya perlahan.
"bukan wanita. Ini tidak karena wanita Ra. Percayalah....kita harus mengakhiri hubungan kita karena....karena kisa sudah tidak cocok Ra, kita sudah sering bertengkar, dan kita sudah tidak bisa bersama lagi. Kita harus mengakhirinya Ra...."
Maura mengusap matanya yang telah basah. Dilihatnya mata lelakinya itu. Tak sanggup, Maura tak sanggup melihatnya. Dipalingkannya wajah Maura dari Natan, dan dilepaskannya tangan Natan. Memang berat, namun Maura tidak mungkin memaksakan hubungan yang jelas-jelas sudah tidak sehat itu.

Sebenarnya Maura tidak berharap bakal ada kata putus dari Natan, dipikirnya Natan akan menjelaskan dan meluruskan semua hal yang menjadi penyebab pertengkarannya dengan Maura akhir-akhir ini. Maura tak pernah menyangka bakal seburuk ini akhirnya. Meski sakit, Maura harus sadar, harus ingat bahwa kemarin dia telah berencana untuk putus dengan Natan, hanya saja Maura sendiri tidak mau mengatakannya, biar Natan yang memintanya putus. Dan akhirnya kata putus itu meluncur juga dari bibir Natan. Parahnya kata putus itu begitu mudah dibayangkan namun sakit saat benar-benar didengar.


"tapi kita masih berteman kan Nat?" ucap Maura dengan gemetar. Natan mengangguk dan air mata Maura akhirnya tumpah ruah tak terkendali. Maura menangis keras di hadapan Natan.

"maafkan Ra, aku tak berniat menyakitimu dengan kata putus ini, aku masih sangat menyayangimu...hanya saja kita memang sudah tidak bisa bersama Ra...mengertilah" Natan meraih tangan Maura dan mengecupnya dengan lembut. Maura yang diperlakukan seperti itu merasa sangat sakit.

"boleh aku memelukmu Nat, untuk yang terakhir" Maura memohon pada Natan. Natan mengangguk dan membuka lengannya. Tangis Maura semakin histeris di sana. Natan yang tadinya baik-baik saja sekarang sesenggukan. Natan menangis.

Maura membatin, jangan pergi Nat....jangan pergi. Ku mohon......aku masih sangat menyayangimu.

Bahkan air mata sekalipun tak bisa menahanmu pergi


Tak ada kata egois dalam cinta
Semua berlalu begitu saja
Ketika salah satu bibir mengucap pisah
Yang lainnya harus pasrah

Tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana kata putus itu terucap, kita masih saling menyayangi, hanya saja kita sudah tidak bisa bersama. perpisahan ini membuatku limbung. membuatku tak bisa berpikir. aku menangis semalaman Nat. Jangan pergi....ku mohon, jangan pergi. aku ingin sekali mengatakan itu padamu jangan pergi. sebab aku masih snagat membutuhkanmu, membutuhkan lelucon-lelucon konyolmu, membuatuhkan protectifmu, membutuhkan sms-sms mu. namun, segalanya telah berubah. You have to say goodbye to me :'(
Read more »

Hush Hush / I Will Survive - Taeyeon

Sedang gandrung dengan lagu ini :)

I Never Needed You To Be Strong
I Never Needed To For Pointing Out My Wrongs
I Never Needed Pain I Never Needed Strain
My Love For You Was Strong Enough
You Should Have Known
I Never Needed You For Judgement
I Never Needed You To Question What I Spent
I Never Ask ForHelp
I Take Care Of Myself
I Don’t Know Why
You Think You’ve Got A Hold On Me
And It’s A Little Late For Conversations
There Isn’t Anything For You To Say
And My Eye’s Hurt Hand’s Shiver
So Look At Me And Listen To Me
Because
I Don’t Want To Stay Another Minute
I Don’t Want You To Say A Single Word
Hush Hush Hush Hush
I’ve Already Spoken Our Love Is Broken
Baby Hush Hush
I Never Needed Your Corrections
On Everything From How I Act To What I Say
I Never Needed Words
I Never Needed Hurts
I Never Needed You To Be There Everyday
I’m Sorry For The Way I Let Go
From Everything I Wanted When You Came Along
And My Eye’s Hurt Hand’s Shiver
So You Will Listen When I Say
Baby
I Don’t Want To
Stay Another Minute
I Don’t Want You
To Say A Single Word
Hush Hush Hush Hush
I’ve Already Spoken Our Love Is Broken
Baby Hush Hush
No More Words No More Lies No More Crying
No More Pain No More Hurt No More Trying
I Don’t Want To Stay Anther Minute
I Don’t Want You To Say A Single Word
Hush Hush Hush Hush
There Is No Other Way
I Get The Final Say Because
I Don’t Want Too Do This Any Longer
I Don’t Want You There’s Nothing Left To Say
Hush Hush Hush Hush
I’ve Already Spoken Our Love Is Broken
Baby Hush Hush
First I was afraid I was petrified
Kept thinking I could never live without you by my side
But I spent so many nights
Just thinking how you did me wrong
But I grew strong
I learned how to carry on
Hush Hush Hush Hush
I’ve Already Spoken Our Love Is Broken
Baby Hush Hush
Oh no, not I
I will survive
Oh as long as I know how to love
I know I feel alive
I’ve got all my life to live
I’ve got all my love to give
I will survive
I will survive
Hush Hush Hush Hush
There Is No Other Way
I Get The Final Say Because
I Don’t Want Too Do This Any Longer
I Don’t Want You There’s Nothing Left To Say
Hush Hush Hush Hush
I’ve Already Spoken Our Love Is Broken
Baby Hush Hush



Read more »

October 1, 2011

Because I'm Stupid

Karena aku jadi gila dengan adamu di sana....

Di ruang kelas yang begitu ramai itu Vita menelungkupkan tubuhnya di atas meja duduknya sendiri. Berusaha menikmati segar jam kosong dengan memutar playlist musik kesayangannya yang hanya terisi oleh original soundtrack BBF (Boys Before Flower). Headset hitam telah tersemat ke dalam kedua telinganya. Dan sesekali jari-jarinya mengetuk meja dan kakinya bergoyang-goyang di lantai bawahnya.

Vita sedang membayangkan Kim Hyun Joong berdiri di depannya, menenteng gitar dan menyuarakan suara merdunya, memainkan lagu Because I'm Stupid untuknya. Dibayangkannya juga senyum Kim Hyun Joong yang mempesona saat menyanyi di Makau bersama Geum Jan Di, giginya yang rapi dan putih yang ditujukan padanya...... Arch....Vita histeris sendiri, memukul-mukul mejanya, berteriak-teriak kesetanan. Imajinasi tinggi Vit, gumamnya dalam hati.

Lalu Vita mendongak dengan masih menyipit saat merasakan bahunya tersentuh tangan manusia. Ah sial, siapa yang membuyarkan imajiku bersama pangeran tampanku? Sedikit menggerutu dan mengerutkan bibirnya, Vita membuka matanya. Dan kaget bukan main ketika didapatinya ruang kelas yang berpenghuni itu tampak sepi, bukan tanpa manusia, hanya saja mereka terdiam saat mendapati Krisna berdiri di depan kelas dengan menenteng gitar, menunjuk Vita yang sedang bingung dengan suasana kelasnya yang tiba-tiba menjelma menjadi pekuburan. Seketika mata Vita membulat, mulutnya menganga, namun segera ditutupnya. Apa yang sedang dilakukan Krisna ? Vita memutar kepalanya ke kiri ke kanan, memastikan bahwa tak ada orang lain di sana yang ditunjuk oleh Krisna.

Vita menunjuk hidungnya sendiri dengan mata masih berkeliaran, siapa tahu ada orang lain yang ditunjuk Krisna, namun tidak ada yang berubah sebab jari telunjuk Krisna masih mengarah padanya, dirinya, gadis berponi pagar. Glek. Vita menelan ludah. Lalu melepas headset hitamnya. Vita tampak bingung, menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal. Lalu berdiri di samping meja duduknya.
"Kris, ada apa ? mau ngamen ?" Grrrrrrrrrr. Tawa lebah menggema di dalam kelasnya. Semua terkekeh mendengar pertanyaan Vita pada Krisna.
"Dengar saja Vit..." ucap Krisna tanpa mengubah mimik wajahnya, serius. Lalu Krisna mulai memetik....

Petikan-petikan gitar itu sangat dikenal Vita. Lirik Bahasa Korea yang diucap Krisna sangat sering didengarnya. Because I'm Stupid. Vita membekap mulutnya, menunjukkan keterkejutan luar biasa. Matanya mengerjap, tampak berbinar tak percaya.
"Kris....." Vita terbata saking terkejutnya.
Dan suara Krisna meskipun tidak sebagus Kim Hyun Joong saat menyanyi cukup membuatnya terkesiap, membuatnya merona, membuat dadanya bergemuruh, membuatnya melayang.

Niga neomu pogosip'eun nalen
Neomu kyeondigi himdeul naleneun
Neoreul saranghanda ipgae maemdola
Honja dasi tto CRYING FOR YOU
Honja dasi tto MISSING FOR YOU
Baby! I love you! I'm waiting for you! 


Vita memekik girang mendengar lirik reff yang diulang-ulang. Wajah Vita semakin bersemu merah, malu sekaligus senang diperlakukan seperti itu. Romantis sekali Kris, guman Vita dalam hati.
Dan lagu terhenti seiring dengan petikan gitar yang memang telah usai. Dan tepuk tangan ramai terdengar dari kelasnya, bahkan anak-anak kelas lain yang daritadi menyaksikan pertunjukan Krisna dari luar jendela juga bertepuk riang, bersiul-siul riuh.
Lalu Krisna menyandarkan gitarnya di bawah white board, setelah itu berjalan mendekati Vita yang masih membekap mulutnya. Vita kelabakan, kehilangan kewarasan. Dikibas-kibaskannya kedua tangannya pertanda gugup ketika didatangi Krisna namun dibekapkannya lagi ke mulut. Matanya berkeliaran mencari tempat lain untuk menghindari tatapan Krisna.
"Naneun neoreul sarang hada, Vita-aku mencintaimu, Vita" Vita mendelik mendengar pertanyaan krisna. Matanya yang tadi berkeliaran kini mentap lurus ke arah Krisna. Sukses Krisna membuat Vita menganga dengan permainan gitarnya, sekarang Krisna berhasil membuat Vita terpengarah.
"naneun ? wae ?-aku ? kenapa ?"
"Because I'm Stupid, Vit" Vita sama sekali tak bisa mengendalikan perasaanya, gugup, terkejut, senang, malu, bercampur jadi satu. Wajahnya sekarang sangat merah saat teman-temannya yang lain bersorak meminta persetujuan atas penembakan yang dilakukan Krisna.

Vita meminta persetujuan salah seorang temannya, dan temannya mengangguk mengiyakan. Dilihatnya lagi Krisna yang menyembunyikan tangannya ke belakang punggungnya, sedang menunggu, gelisah.
"Ne-iya" dengan menunduk Vita mengatakannya, sedikit lirih namun masih bisa terdengar oleh telinga Krisna yang normal.
Wajah Vita sekarang benar-benar merah setelah teman-teman sekelasnya bersorak, bersiul-siul.
"Gomawo" Krisna tersenyum senang lalu menjabat tangan Vita dan berlari ke arah pintu, meninju temannya yang telah menanti di sana. Sedang Vita langsung dikerubungi teman-teman gadisnya dan diberondong banyak pertanyaan.

Vita sempat melirik Krisna sebelum laki-laki itu meninggalkan kelasnya. Dalam hati Vita bertanya-tanya, darimana Krisna tahu Vita menyukai lagu itu ?


Read more »

Crying Hard :'(

Apa kau mencoba menyalahkanku atas situasi yang sangat rumit ini ? Dengar, jangan kau pikir aku tidak menangis karena sengaja menyakitimu, membiarkan penantianmu menggantung sia-sia begitu saja? kau pikir aku tidak memiliki rasa bersalah sedikitpun ? kau pikir aku menganggap diriku paling sempurna dan layak mendapatkan cinta dari banyak pria ? Kau salah..

Perlu kau tahu, tak ada maksudku untuk menyakitimu andai saja kau mengatakannya padaku saat itu, sebelum aku memutuskan untuk menyukai Y dan sebelum aku memutuskan untuk berpacaran dengan X. Kau harus tahu. Andai kau sedikit lebih awal dan memintaku untuk bersamamu, mungkin tidak akan seperti ini. Mungkin tidak akan membuat orang lain terluka. Sedikit saja lebih awal, sedikit saja kau beranikan dirimu mungkin tak akan pernah seperti ini jadinya. Kau menyesal tidak melakukannya ? Sudahlah, lupakan saja.

Kau, seperti menyalahkanku atas keadaan yang sama sekali tak pernah aku inginkan. Kau membuatku menangis. Kau katakan untuk enjoy ? kau berusaha menghibur dirimu dengan menampakkan status keep enjoy tapi dengan gaya seperti itu ? kau taruh mana perasaanmu ?kau jelas-jelas seperti menabuh genderang perang dingin (lagi) padaku. Woey, aku yang salah. Apa aku salah sangka ? salah paham dengan status-statusmu itu ? Lalu kau tujukan pada siapa statusmu kalau bukan padaku ?

Bahkan saat menulis ini aku menangis, aku menangisi cintamu yang seperti itu. Aku menangisi pernyataanmu yang menganggapku bahwa aku wnaita paling sempurna. Kau menyakitiku. Kau seakan tidak memberiku ruang untuk beralasan. Kau....secara tidak langsung telah menganggapku kejam. Siapa yang kejam ? adakah kejam yang dinyatakan blak-blakan ?
Lalu, salahkah aku jika menerima uluran cinta dari seorang pria yang menjanjikanku bahagia ? saat aku menunggu, kau kemana ? ha ? kau lupa, kau lupa atau tidak tahu bagaimana mengungkapkan itu semua ?

Aku tidak yakin kalau kau sama sekali tak pernah menyalahkanku atas sikapku ini. Aku tahu, kau pasti sakit hati. Aku tahu. Kau tidak bisa membohongiku dengan perkataanmu yang "biasa saja, santai saja" sebab itu salah satu tanda bahwa kau sedang tidak baik-baik saja.
Arhhh, persetan dengan semua ini. Sial. Bullshit. Ini membuat otakku sakit. Kepalaku sakit.
Di sini aku merasa sakit. Jangan kau pikir aku sempurna bahagia hidup seperti ini. Bukan hanya kau yang terluka, aku juga. Aku juga merasakannya, sakit.

Kau menyalahkanku ? Ya, seharusnya kau menyalahkanku sebab akulah yang memang salah, akulah sumber dari permasalahan itu.
Jika kau bertanya apakah aku menyakitimu ? Ya, aku telah menyakitimu :'(
Read more »

Cepat Datang, Sebelum Rasaku Berpulang

Bukan hanya tentang menunggu, ini lebih dari itu...

Seperti padang gersang menandus yang menantikan hujan, 
Bergejolak, menggeliat memohon setetes air langit
Membuncah rasa kesepian di ujung dahaga
Mengakar rindu sapuan debu, padamu

Baru saja aku menerima paket novel yang kau janjikan. Coming Home karya Sefryana Khairil yang aku inginkan. Aku tertidur pulas saat tukang pos mengetukkan tangannya ke pintu depan kosan. Tiba-tiba saja seorang teman memasuki kamar, berbicara lirih namun masih bisa ku dengar suaranya yang menyebut tentang paket. Aku terbangun dan mendapati bungkusan kertas kado berwarna kuning dengan motif bunga itu telah tergeletak di atas meja belajarku. Buru-buru aku menyambarnya, segera ku robek kertas pembungkusnya. Dan aku menemukan sebuah tulisan:

"hatiku yang dulu selalu kelabu, kini menjadi penuh warna dengan hadirmu"

Aku membacanya dengan seksama. Aku menyadari sesuatu. Sebuah ketakutan besar menghimpitku tiba-tiba. Cinta. Oh shit. Cinta membuat kepalaku nyeri. Hendak ku pukul-pukul otakku, andai bisa. Namun, aku berpikir lagi. Mana yang lebih berkuasa akan cinta ? otak ataukah hati ? mana yang sering menentukan pilihan dan membuat keputusan ? mana yang semestinya disalahkan ?Arch....aku menjerit sendiri di dalam kamar.

Aku tidak mau kehilangan semuanya. Aku tidak mau. Aku ingin mencinta dan dicinta seperti lainnya. Namun, aku takut. Ini ketakutan yang seperti biasa mengganggu otakku yang sering eror ketika berhasil menjalin hubungan dengan seorang lelaki. Rasaku menghilang, berpulang pada Rahmatullah. Jangan. Aku tidak mau. Tolong, kepadamu yang telah memilihku. Segera datang dan tunjukkan cintamu padaku. Datang padaku dan katakan semuanya. Katakan bahwa kau ingin aku terus di sampingmu. Katakan bahwa kau ingin bersamaku.
Lalu ku benamkan wajahku ke dalam bantal, menahan napas dan mencoba berhenti menyadari semuanya. Menjerit. Menjerit. Menjerit.
Serumit inikah cinta ? sampai membuatku mual, mata berkunang-kunang, kepala nyut-nyutan.
Demi Tuhan, sekarang juga aku membutuhkanmu :'(

Benar aku menunggu hujan dalam tandusku
Hanya saja keraguan terlalu dalam menumbuh, mengakar tanpa ragu
Read more »

Ring Ring Road



Melihat wajahmu untuk yang terakhir kali dalam momen prom tujuh tahun silam membuatku ingin tertawa sekaligus menangis. Tertawa karena kau mengejutkan banyak orang dengan menembakku dengan tak wajar, menyatakan cintamu di hadapan semua teman SMA dan para guru dengan menggunakan kostum pahlawan bertopeng, itu membuatku malu dan tertawa terpingkal-pingkal sampai mataku berair. Lalu menangis karena sesaat setelah prom berakhir kau menyeretku ke belakang panggung, tiba-tiba mengecup bibirku dan menyematkan sebuah cincin di jari manisku, satunya di jari manismu, katamu itu adalah perwakilanmu, wujudmu jika kau tak ada di sampingku.

Sekarang aku berdiri di depan gerbang pintu sekolah kita. Katamu dulu, kau memintaku datang setiap tahunnya di sana. Sebab siapa tahu kau bakal muncul dengan tiba-tiba dan membawa seikat besar bunga lily putih seperti yang kau janjikan padaku. Aku melakukannya, ini tahun ke tujuh aku melakukannya, dan menurutku itu adalah tindakan terkonyol dan paling bodoh yang pernah aku lakukan. Menunggu seseorang yang tak pernah pasti kapan dia pulang. Aku tersenyum getir, mengasihani diriku sendiri sebab percaya pada lelaki yang jelas tak pernah memberi kabar apapun selama ini.

Aku mendongak untuk melihat langit yang hampir memerah jingga. Huf, aku mendengus kesal. Sudah hampir maghrib dan akhirnya memang berujung seperti tahun-tahun sebelumnya, sia-sia. Aku menendang-nendang udara di hadapanku tepat ketika aku melihat siluet jingga di ufuk barat, menyembul dan menyilaukan. Tas tanganku terjatuh saking terkejutnya. Di depan sana, di seberang jalan raya aku melihat lelakiku, mirip lelakiku. Berkacak pinggang menebar senyum, namun tidak menenteng seikat atau bahkan setangkai lily putih. Ah, mataku merabun. Sekali lagi ku picingkan mataku, memeriksa kembali kalau-kalau terjadi kesalahan penglihatan.

Tidak, aku tidak salah lihat. Itu lelakiku, dengan setelan celana panjang hitam dan kemeja biru muda. Aku tidak salah lihat, sebab tak ada yang berubah dari postur tubuhnya yang tinggi tegap, hanya berbeda pada gaya berpakaian yang dulunya berkaos dan kelihatan ABG sekarang seperti eksekutif muda.
Dan kali ini tidak seperti drama-drama Korea yang bertemu kekasihnya di seberang jalan lalu saling menghampiri, mengacuhkan kendaraan yang lalu-lalang di depannya dan bertemu di tengah zebra cross lalu berpelukan. Tidak. Dia yang menghampiri wanitanya.

Dengan jarak sedekat ini aku bisa memastikan bahwa lelaki itu adalah lelakiku. Wajahnya yang bulat telur masih sama, bersih tanpa jerawat. Senyum lesung pipinya masih kentara saat bibir tipis pinknya tersenyum. Yang berbeda hanyalah kumis tipis yang menghiasi celah antara bibir dan hidungnya. Juga jenggot yang mulai membuatnya semakin terlihat dewasa.
Dia mendekatiku sampai jarak sejengkal hingga napasnya yang memburu berhasil ku dengar, hingga aroma parfumnya menyeruak ke dalam hidungku. Tanpa aba-aba dia langsung menyeretku dalam pelukannya. Aku yang masih separuh tak sadar akan kedatangannya sedikit tersengal.
"Nita....." dia menyebut namaku, dia memanggilku sambil mengelus kepalaku, mengusap-usap rambut sepinggangku.
"Oki...." suaraku bergetar menahan tangis
"iya....maafkan aku Nit, aku ham..." belum sempat dia melanjutkan katanya aku telah memotongnya dengan berondongan pertanyaan, membuatnya mulutnya menganga...
"kau jahat Ki. kenapa kau membiarkanku menunggu sesuatu yang tak pasti begini ? kenapa kau membiarkanku menggantung selama tujuh tahun ? kau tidak merasa bahwa tujuh tahun itu begitu lama Ki? bagaimana kalau aku memutuskan untuk menikah dengan or...." air mataku menetes.
"kau sudah menikah Nit?" Oki melepaskan pelukannya tiba-tiba, menatapku dengan penuh selidik.
"menurutmu?" jawabku dengan masih sesenggukan.

Aku menurunkan tangannya dari pinggangku, mencari alasan dengan berpura-pura melihat ke arah yang lain.
"Nit, katakan padaku bahwa kau belum menikah. Katakan !" Oki mengguncang-guncang bahuku, suaranya yang lantang membuatnya terlihat serius dan sedikit menakutkan.
Lalu ku ulurkan tangan kiriku, di sana masih tersemat cincin pemberian Oki yang sudah mengarat, pudar warna peraknya, maklum itu cincin palsu.
"aku pikir, aku tidak akan pernah melihatmu lagi. Namun entah mengapa cincin ini memberiku kekuatan besar agar aku....."
Dan Oki membuang napas lega lalu mengerang hingga aku tidak bisa menyelesaikan kalimatku. Dia memegang keningnya lalu menyisir rambutnya dan  mengacak-acak tatanan rapi rambutnya, lalu memelukku lagi, kali ini sangat erat.
"aku pikir kau sudah menikah, Nit. Sia-sia donk aku balik dari Jerman kalau kenyataannya seperti itu?"
"kau ini, belajar di luar negeri tapi masih saja dungu. Bodoh. Kau pikir untuk apa aku datang ke sini setiap tahun? ha?"
"hehehehhe, maaf....." Oki terkekeh dan aku tersenyum puas telah mengatainya dungu seperti tujuh tahun lalu.
"Aku jadi teringat bagaimana si dungu menembak si juara kelas dengan kostum panglima bertopeng waktu prom. Hahahahahaha" aku tergelak, tertawa dalam pelukannya.
"ih...aku sudah tidak sedungu dulu kali" Oki mencibir.
"masih"
"gak"
"masih"
"gak"
"meski masih dungu, tapi aku tetap cinta"
Oki tersenyum mendengar kata cinta itu, senyum tipiis yang sangat mempesona, yang membuatku tak berdaya dalam pelukannya.
"mana lily putihnya?" tanyaku tiba-tiba.
"oh iya....lupa" oki menepuk jidatnya sendiri
Aku mendelik seakan-akan marah lalu membuang muka.
"terus...mana cincinmu?" aku memeriksa jari-jari Oki dan tak ku temukan apa-apa. Dahiku mengerut, bibirku naik sebelah.
"besok kita beli yang asli ya, Emas dua puluh empat karat. Yang itu kan sudah tak berwujud lagi" goda Oki padaku sambil mengacungkan jari tengah dan telunjuknya sebagai tanda damai. Dan aku mencubit pinggangnya.

Tiba-tiba Oki terdiam, aku ikut diam. Lalu direnggangkannya pelukannya dan perlahan memiringkan kepalanya, matanya menatap bibirku, dan setelah itu....dunia menjadi milik kami berdua.

Aku berpikir bahwa aku tak akan pernah bisa melihatmu lagi, namun aku salah....
Cincin kita bereaksi seperti apa yang telah kita perkirakan sebelumnya....
Read more »

Curcol Bentar

Stres dan ngrasa nyesel udah ganti tampilan counter flag, dan akibatnya recording viewer ilang. Huah. sayang banget, hahahahaha. Padahal hampir seribu viewer. Maklum dech, namanya juga aku masih pemula ya pastinya seneng kalo blognya ada yang ngintip. Eh syukur-syukur mau baca postinganku yang "aneh" bin "geje" :D

Ya, nasi kan udah jadi bubur, gak mungkin kan jadi nasi lagi ? apalagi jadi beras ? *ngarang
Hagz hagz hagz, biar deh....lupakan ajaaaaaaaaaaaa. Stay calm and stay work :)

Keranjingan nulis bikin insomnia. Suerrrr. Ini ni yang bikin tekanan darah rendahku turun. Katanya bu dokter kemarin sich 90, tauk deh artinya kaya' gimana. Tapi yang jelas rendah itu....
Bu dokternya bilang jangan banyak begadang, jangan lupa sarapan sebelum kuliah, dan banyak makan daging. Alamak....aku tiap hari begadang ituh Bu, aku juga kagak pernah sarapan, dan lagi aku gak doyan sama yang namanya daging. Huhuhuhuhuhu. Susah sekali ya kalau urusannya kaya' gini *susah buat aku aja*

Rajin minum obat dech akhirnya, itu satu-satunya jalan buat meninggikan tekanan darah rendah.
Cemungudh ya kakak :D
wakakakakakaka
Pengen sich tidur lebih awal kaya' dulu, tapi...sedikit susah :D

Ini 1 Oktober ya ?
wah wah...udah ganti bulan nie....
selamat hari kesaktian pancasila buat dasar negara kita tercinta :D
merdeka ! :D
nah, ngomong-ngomong masalah pancasila jadi inget dosenku PKN, Bu Monik *love u Mom :D
beliau pernah ngasi tugas buat nyari sebab gonjang-ganjing hari lahir pancasila :D
hayo...yg bener bulan juni atau oktober ? :D
Read more »