July 16, 2013

Beri Judul, Dong!

"mana psananku?"
"masih di kolong ranjang"
"keluarkan!"
"keluarkan sendiri"


*


Selembar kertas bekas bungkus kacang tanah tergeletak di atas meja, lusuh. Sripit memungutnya kemarin sore saat hendak pergi ke toko untuk membeli sabun mandi. Ditemukannya kertas itu di depan pagar rumahnya. Warnanya yang mencolok membuat matanya langsung bisa mengenali benda itu. Diperhatikannya dengan seksama, gara-gara kertas itu Sripit jadi malu.

Itu tulisan tangan si Supardi, tetangga Sripit yang cerewetnya seperti almarhum kakek buyut Sripit yang tinggal di daerah Boyolali, yang sering dia kunjungi ketika lebaran tiba. Seperti biasanya, Sripit tahu apa yang diminta Supardi darinya sesore ini. Segelas kopi minim gula dan seperangkat alat merokok. 

Tidak butuh waktu lama untuk melemparkan kembali kertas itu ke pemiliknya. Kos Supardi berada di depan kos Sripit. Dan beruntungnya, entah sengaja atau tidak, Supardi tengah duduk manis di teras sambil membaca....majalah wanita, kesukaannya. Dia bilang, tidak susah untuk memahami wanita, selain membaca dari internet, majalah menye-menye seperti itu adalah makanan sorenya selain kopi minim gula dan rokok.

Supardi menjulurkan kepalanya ketika Sripit bersiul iseng. "mana pesananku?"
"tuh di dalem kamar" jawab Sripit seadanya.
"ambilkan!" pinta Supardi manja.
"males" Sripit melipir tanpa peduli pada reaksi Supardi yang kesal.

*

Sripit membuka kamarnya. Hal pertama yang dia tangkap adalah aroma mint yang menguar dari dalam kamarnya. Sripit tidak memakai parfum beraroma mint. Jelas. Itu bau datang dari badan Supardi. Laki-laki itu sudah duduk anteng di kursi sambil membaca majalah wanita milik Sripit.

"kau selalu membaca majalah macam ini, nggak bosan?" tanya Supardi, masih dengan fokusnya tertuju pada gambar-gambar wanita yang full make-up berlenggok di atas catwalk.
"nggak" jawab Sripit kilat sebelum Supardi menanyakan hal-hal aneh seperti biasanya.
"nggak kepengen nyoba baca majalah dewasa pria?" NAH.

Sripit menggeleng cepat. Dalam hati, Sripit gemas dengan laki-laki ini. Ingin dia lakban mulutnya yang terlalu ceriwis itu.
"ih...majalah pria dewasa apa bagusnya? apa yang bisa dilihat? aku tidak sepertimu, yang doyan membaca majalah wanita cuma untuk mencari tahu wanita macam apa yang baik untukmu"

"so?"

"bodoh. membaca majalah pria dewasa tidak serta merta membuatku bisa kenal macam-macam pria. benda mati kok dipelajari" Sripit menjewer telinga Supardi dengan gemas.

"aduh, sakit Sri!" Supardi kesakitan.


"cara mempelajari manusia bukan lewat majalah, bodoh. eksperimen langsung dong"
"bodoh, balik!"
"lho?" Sripit kaget, dikatai bodoh oleh Supardi.

"sebelum eksperimen, baca dulu teorinya!" Supardi melanjutkan.
"tapi terlalu sering membaca tanpa didukung oleh tindakan nyata, ya mana ada fungsinya?"

"siapa yang bilang aku tidak ada tindakan nyata?"
"aku"



"karena itu aku tadi bilang kamu bodoh. dasar wanita bodoh!" Supardi melempar kertas lusuh yang lama digenggamnya ke hadapan Sri. Kertas yang bertuliskan pesanannya sore ini.

Sri mengernyit. Bibirnya manyun.




"begitulah ekspresi wanita bodoh yang tidak pernah sadar kalau selama ini menjadi bahan eksperimen pria tulen yang pura-pura bodoh"
"maksudmu?
"pikir sendiri!"
"kau bilang aku bodoh?"
Supardi mengedikkan bahu.

Sripit terdiam. Mencoba mencerna kalimat Supardi barusan.


Sripit membuang muka dan lari ke dalam kamar mandi. Pintu ditutupnya dengan kesal. Dinyalakannya keran air keras-keras. Lalu dirabanya dadanya yang tiba-tiba berdebar. 


"mana pesananku?" Supardi berteriak lantang dari dalam kamar.
masih gemetar, Sri menjawab"masih di kolong ranjang"
"keluarkan!" 
"keluarkan sendiri!" balas Sripit tak kalah kerasnya.










Supardi kemudian melongok kolong tempat tidur Sripit. Ditemukannya tumpukan majalah di sana. Dan diantara majalah itu, SUpardi melirik nakal beberapa majalah yang terselip rapi....majalah dewasa, pria dewasa.
"ini bukan pesananku, Sri." Supardi berteriak sambil terkekeh. Kemudian tersenyum nakal.






mendengar Supardi terkekeh, lutut Sripit mendadak lemas.








Read more »

SS

Sripit. Perempuan muda dua puluh delapan tahun itu dipanggil Sripit hanya gara-gara matanya menyipit kalau melihat laki-laki muda rupawan yang pandai memasak kata-kata. Sebenarnya namanya Sri saja, namun si laki-laki muda berewokan, lima tahun lebih muda darinya, yang pernah menjalin hubungan tanpa status dengannya memberikan nama itu. Kata laki-laki itu, Sripit adalah perempuan teristimewa dalam hidupnya, sebab selama dia jatuh cinta tidak pernah dengan perempuan yang lebih tua. Jadi, dia ingin memberikan nama itu sebagai kenang-kenangan setelah putus hubungan.

Suatu ketika, Sripit mendatangi laki-laki berewokan yang mengaku seksi padahal perutnya tidak pernah rata, tidak pernah membentuk kotak-kotak seperti laki-laki yang Sripit kencani itu untuk menjelaskan banyak rasa yang tidak bisa dia tulis lewat ketikan huruf-huruf di note facebooknya atau blog pribadinya.

Sripit datang jauh-jauh dari Surabaya menuju Malang, menerjang ganasnya panas di dalam bus tanpa AC demi meluruskan perasaannya yang tak pernah bisa dia luruskan sebelum terjadi pertemuan. Perasaan itu tidak akan pernah berakhir sebelum dia sendiri yang mengakhiri. Kalau menunggu Tek ngomong, ya tidak akan pernah kelar. 

"Tek, kau tahu persamaan drama dengan hubungan kita?" Sripit mencoba mencairkan suasana karena sedari tadi Tek cuma berdehem tidak jelas, membiarkan Sripit kikuk.

"nggak tau, mbak Sripit" jawab Tek asal.

"lu jawab nggak tau karena emang nggak tau atau karena pura-pura nggak tau?" Sripit gemas, lalu menarik lengan Tek agar mendekat. Tek terkejut. Jarak wajahnya cuma sejengkal dengan Sripit. Ada debar yang tidak bisa Tek jabarkan dengan kata-kata yang tiba-tiba melesak masuk ke dalam dadanya. Rusuh ya ni rasa, batin Tek.

Tek, Sutekno terdiam. Dia hanya menggeleng, diiringi dengan cengiran kecil di sudut bibirnya yang pernah Sripit kecup diam-diam saat Tek terlelap setelah lelah bermain badminton di akhir sore di lapangan belakang kosannya.

Sripit menelan ludah. Mata laki-laki muda ini masih saja menawan, tampan, sekalipun berewok tumbuh liar di wajahnya, tidak mengurangi garis ketampanan yang tersurat di sana. Ah, Sri Sri...tidak boleh begini.Sripit menggeser duduknya, menjauhi Tek. Dia tidak mau perasaan halus itu muncul lagi. Semakin cepat untuk diakhiri maka semakin baik. Lalu Sripit melanjutkan bicaranya.

"setiap drama selalu punya awal dan akhir, setiap drama punya episode pertama dan episode pamungkas. sekarang....sekarang adalah episode pamungkas bagi drama yang kita ciptakan, Tek" Sripit hati-hati memulai.

Tek menoleh, kaget. Dadanya berdebar. Mendadak tangannya gemetar. Tek merasa....ini tidak akan berjalan dengan baik.

"maksudmu, mbak?" Tek masih berpura-pura tidak mengerti. Namun Sripit tahu, Tek tidak sebodoh itu.

"drama yang kita mainkan tidak akan pernah ada akhir jika jalan ceritanya cuma begitu saja"
"tapi aku menikmati jalan ceritanya, mbak"
"tapi aku tidak"
"kenapa?"
"aku lelah"
"lelah terhadap?"
"sudah ku bilang aku lelah dengan jalan ceritanya"
"tapi aku tidak"

"tidak ada gunanya meneruskan cerita jika salah satu lakon tidak bisa memberikan seluruh hasratnya di sana. kau seharusnya mengerti ini"

Tek terdiam. Merenung sebentar. Kemudian menarik tangan Sripit.

"kau lelah denganku?" tanya Tek tiba-tiba.
Sripit menggeleng.
"sudah kubilang aku lelah dengan jalan ceritanya, bukan denganmu"












"aku cuma tidak mengerti dengan perasaan gila ini. aku masih takut untuk menamakannya cinta. aku bahagia bersamamu. selalu saja ada kupu-kupu yang bebarengan masuk ke dalam perutku ketika bersamamu. selalu saja aku bisa tertawa mendengar celoteh konyolmu itu. kau membuatku bahagia, Tek"

Cinta? Tek terhenyak. Ada kerusuhan yang tiba-tiba muncul di dalam hatinya.

"mbak!"
"dengarkan dulu!"
"mbak!"
"kita tidak akan pernah bisa melisankan cinta itu seperti orang-orang biasanya......"

Tek lemas.

"begitulah kita mengartikan cinta dalam hubungan kita, Tek. cinta bagi kita memang tidak bisa begitu saja dilisankan"

Tek memejamkan matanya. kemudian bicara sesuatu yang membuat Sripit kaget.

"aku tahu mbak, bagi kita cinta tak ubahnya sebagai perasaan lugu dan halus yang timbul malu-malu dari dalam hati kita. cinta, bagi kita adalah rasa sakral yang tidak begitu saja bisa kita ungkapkan. aku tahu itu semua"

Sripit mencengkeram pucuk kaosnya.
"jadi kau mengerti?"

"iya aku mengerti mbak, aku juga merasakan itu. aku bukan laki-laki bodoh yang tidak tahu hal semacam itu. jangan kau anggap karena usiaku jauh di bawahmu, aku jadi tidak mengerti semua ini"
"bukan seperti itu maksudku, tek!"


keduanya diam.
keduanya saling berpikir.


"kau tahu Tek, cinta saja tidak pernah cukup. memiliki saja tidak pernah sanggup menyempurnakan sebuah hubungan. punya status "pacaran" saja tidak akan pernah bisa menjamin salah satu lakon mau jalan lurus di trek yang sudah ditentukan. dan parahnya yang tidak punya status semacam kita malah punya jarak paling dalam, Tek. dan itu harus diakhiri sekarang sebelum ada luka besar yang kita ciptakan sendiri merusak hubungan persahabatan kita"








Tek bangkit dari kursinya. "memiliki, bagiku adalah kehilangan. aku tidak pernah memilikimu, jadi aku tidak akan pernah kehilanganmu, mbak Sripit. itulah dasar pemikiranku untuk hubungan kita yang menggantung. benar menggantungkan, kan?"
"menggantung hanya milik para manusia yang berhasrat untuk memiliki. kita sama-sama tidak berniat memiliki. kita cuma punya rasa yang bisa sama-sama kita bagi tanpa wadah apapun. rasa kita tidak terbelenggu oleh wadah bernama status pacaran, Tek"







*Memiliki, kehilangan*
Read more »

June 25, 2013

เสียใจ

ผิดปกติ มันเริ่มต้นเมื่อฉันหายไปครึ่งหนึ่งของหัวใจของฉัน และฉันเริ่มที่จะหาโอกาสอื่นที่จะขับไล่ความรู้สึกนี้ครับ ผมเบื่อ ฉันต้องการจะมีอีกเรื่องหนึ่งที่มีผู้หญิงบางคนอาจจะ? มองผมไม่ปกติอีกต่อไป ขอแสดงความนับถือผมชอบเธอ วิธีการที่ฉันสามารถพูดคุยเกี่ยวกับมันเมื่อฉันมีคนที่ฉันรักมาก? วิธีการที่ฉันสามารถชำระคืนความมีน้ำใจของเขากับนี้อึผิดปกติสิ่ง? ฉันไม่สามารถควบคุมใจของฉันทั้งหัวใจของฉัน FYI ก็รู้สึกแบนดังนั้น ไม่มีผีเสื้อที่บินไปรอบ ๆ ภายในหัวใจของฉันเป็นมาก่อน ไม่มีอะไร ผมแค่ทำหน้าที่จะเป็นชนิดในด้านหน้าของเขา ฉันไม่สามารถทำร้ายเขาอย่างแน่นอน ฉันต้องการที่จะออกจากสถานการณ์เลวนี้ แต่ฉันไม่สามารถ เขาเกินไปชนิดสำหรับฉัน ฉันขอโทษ .... ฉันมีการเปลี่ยนแปลงคนของฉัน
Read more »

Perempuanku

tidak. aku sedang tidak berdiri di pinggir tebing seperti seorang yang sedang patah hati. aku di pinggir jalan dengan kumpulan asap yang datang satu-satu dari bokong mobil-motor mereka. aku sedang berdiri menganggunkan diri di sisi halte yang biasanya ku datangi saat aku sedang rindu.

hatiku diliputi kabut, bukan kabut asap seperti yang tertuang di jalanan depanku, atau kabut asap akibat pembakaran lahan seperti di Sumatera akhir-akhir ini. ini kabut cinta, kabut rindu yang menutupi separo hatiku.

aku ingin berontak. ingin teriak dan melepaskan semua penat yang menggunung di ujung ubun-ubun. aku ingin jujur kepada semua makhluk hidup di bumi ini kalau aku begitu rindu.

aku butuh rokok

aku butuh kopi

aku butuh udara.

aku butuh pohon.

aku butuh kamu.

*

sebatang rokok, minus kopi, tidak mungkin kan aku mencengkeram kuping cangkir di jalanan seperti ini? mungkin jika urat maluku sudah benar-benar putus, maka akan ku lakukan itu. berdiri...ah bukan, duduk manis lesehan di lantai kotor yang beberapa orang bilang itu menjijikkan dengan secangkir kopi pahit dan sebatang rokok yang terjepit di sela jari-jari lentikku. sungguh, kebebasan. itulah aroma kebebasan yang beberapa lama sudah tak kudapatkan bersama perempuanku yang dulu.

perempuanku. perempuanku tertinggal di halte bis kota. perempuan bermata cokelat tua, dengan garis bibir sempurna yang selalu diolesi gincu merah muda, dengan hidung dengan patahan khas orang Asia, dengan sekumpulan tahi lalat yang terpasung di beberapa titik di wajahnya, dengan....dengan segenap pesona yang entah harus kujelaskan dengan kalimat seperti apa lagi untuk menjabarkannya.

perempuanku melambaikan tangannya saat hujan mengguyur kota, saat lelakiku dengan kuat mencengkeram lenganku agar tidak berlari ke arahnya. kaki-kakiku seperti membatu, diam di tempat dan tidak bisa digerakkan. maka setelah itu, dengan air mata membanjir di wajahku, harus ku relakan perempuanku pergi dari kehidupanku.

ah... aku teringat kejadian-kejadian tempo lalu, sebelum akhirnya perempuanku pergi meninggalkanku dengan lelakiku.

aku terluka. tapi aku tidak bisa mencegahnya untuk tidak pergi dari kehidupanku. lelakiku dengan kuat menahanku untuk tidak berlari ke arahnya. padahal jika kau tahu, aku sangat ingin berlari an menubrukkan diri ke tubuhnya. aku ingin memeluknya seraya berkata bahwa aku sangat mencintainya. namun, lelaki di belakangku ini membuat segalanya rumit. meninggalkannya sama saja menorehkan luka sangat baru yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya mampir seperti kilat yang mendadak menjilat langit. aku tidak bisa meninggalkannya.
perempuanku,

kita bukanlah dua kutub magnet utara dan selatan, bukan analogi itu yang pantas mereka pahatkan ke dahi kita. kau tahu, kita berbeda. kita bukan mereka. kita adalah makhluk lain, manusia jenis lain, yang masih sama-sama bisa merasakan cinta dengan cara yang berbeda. cinta bagi kita tidak hanya sekedar hubungan lawan jenis. ah, sulit menerjemahkan segala sesuatu yang berawal dari ketidaknormalan.

biar saja mereka bilang tidak normal. biar saja justifikasi itu lahir dalam mulut mereka yang memegang prinsip "lurus" dalam hidupnya, yang tidak pernah berbelok (katanya).

aku menemukan cinta yang sangat berbeda dari biasanya, ku temukan rasa luar biasa darimu, rasa yang membuat perutku seperti dihinggapi ribuan kupu-kupu, yang tidak pernah ku rasakan pada pasangan lawan jenisku. kamu, berhasil meyakinkanku bahwa cinta bukanlah sebuah sentuhan dan belaian tangan pasangannya, bukan pula sebuah hasrat menggebu untuk saling mengikatkan diri. bagi kita, cinta adalah anugerah terindah dan tersuci dari Tuhan kita, sebuah perasaan halus yang timbul lugu dari dalam masing-masing hati kita.

aku mencintaimu, perempuanku. dengan segenap hatiku ku ikrarkan cinta yang biasanya dulu ku katakan pada kaum yang berbeda dengan kita, kaum pria. entah aku tidak peduli jika memang dunia hampir menemui ajalnya, menemui penghujungnya karena keberadaan kita berdua.

dan aku menimang rindu di sela keramaian kota, wahai perempuanku. dimana kini kau berada? aku rindu.... 

***

sebuah tulisan dari seorang anak manusia, seorang perempuan, yang menyukai perempuan lainnya. aku merindukanmu...
aku tahu kau akan membacanya.
aku tahu kau akan sering mengintipku di halaman-halamanku.
maka bacalah....bacalah wahai perempuanku.

dengan segenap hati ku tuliskan padamu bahwa tidak ada yang salah dengan kita, dengan perasaan kita, hubungan kita....hanya saja....hanya saja kita tidak pernah ditakdirkan untuk bertemu dalam satu titik yang sama....namun aku mencintaimu...dan tidak akan pernah ku sesali itu. kamu adalah bagian abadi yang akan tetap brsemayam dengan cantiknya di dalam hati, takkan terganti.

terima kasih telah berani mencintaiku.





salam, L, untuk perempuanku yang entah sekarang berada di belahan bumi mana, salam rindu.
Read more »

May 20, 2013

Kaktus

"aku takut"
"takut kenapa?"
"takut membuat kaktus kecil itu mati"
"makanya disiram setiap hari"
"aku rasa tidak punya banyak waktu untuk melakukan itu"
"tapi aku pikir kau bukan tidak punya waktu, tapi tidak punya kemauan"

*

kupandangi kaktus kecil di dalam pot seukuran gelas es teh seperti yang ada di warung-warung dengan gelisah. kuambil pot (gelas) itu. kuperhatikan dengan seksama kaktus itu seperti seorang anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru. aku senang, sekaligus takut. senang karena mendapatkan hadiah baru, takut karena kemungkinan aku tidak bisa merawat kaktus itu dengan kedua tanganku.


"ini adalah hadiah," itu kata malaikat tadi sore.


aku bengong ketika malaikat menyodoriku pot yang berisi sebatang kaktus mini yang baru saja lahir. for what? batinku.
aku terus saja memandangi pot dan malaikat secara bergantian. separo alisku terangkat. dahiku jelas sekali mengeluarkan kerut heran. sudut bibirku terangkat, lalu manyun.

mungkin malaikat menangkap simbol tanda tanya yang sangat besar muncul di atas kepala batuku, oleh karena itu dia segera menepuk pundakku dengan lembut.

"dirawat, NAK!" malaikat tersenyum. baru kali ini aku melihat malaikat tersenyum begitu tulusnya hingga membuatku sedikit takut, takut jika malaikat kemasukan arwah Song Joong Ki *skip*

"ha?" 
aku melongo, tentu saja. mulutku sudah terbuka separo. dan sebelum aku banyak bertanya padanya serta menelurkan beberapa macam protes, malaikat menyerobot dengan santainya...


"hadiah dari Tuhan, ini dari Tuhan, bukan dariku. aku hanya menyampaikan pesanNya saja. kaktus ini indah, ini bukan jenis kaktus berduri seperti yang kau kenal sebelumnya. kaktus ini lembut, kaktus ini beda. lihat saja bentuknya yang menawan. ini hanya Tuhan berikan kepada orang yang benar-benar Dia pilih. sebenarnya aku agak ragu dengan keputusanNya memberikan kaktus ini padamu, tapi aku tahu kalau Tuhan Maha Mengetahui kaktus mana yang terbaik untukmu....terimalah, NAK!"


aku menelan ludah berulang kali. mataku berkedut-kedut, rasanya tubuhnya gemetar sekaligus mendadak seperti dilanda meriang, panas dingin. apa yang harus aku lakukan? aku bingung. terus terang saja, untuk merawat tanaman biasa saja aku tidak becus, bagaimana bisa aku membesarkan kaktus kecil yang katanya tidak berduri ini? INI KAKTUS, bukan KAMBOJA.

dan seperti sebelumnya, malaikat tahu apa yang sedang berkeliaran di kepalaku.

"sudah sudah, berikan dia perhatian, itu sudah cukup."


perhatian? apa dia makan perhatian? tidak makan air atau pupuk?


"makanan pokoknya adalah perhatian dan kasih sayang. air dan pupuk adalah pelengkap."





jujur, sampai di titik ini aku benar-benar tidak mengerti. sama sekali tidak ada bayangan bagaimana caranya membesarkan kaktus ini. kenapa harus kaktus? tidak adakah tanaman lain yang lebih cantik dari kaktus kecil ini?
ku gigit bibir bawahku. makhluk di dalam dadaku bercicit kecil, membuatku sedikit ngilu. hai hati, diamlah sebentar!


ada peluh yang tiba-tiba menetes di sudut dahiku. jantungku berdetak-detak heboh. mendadak ada rasa takut luar biasa untuk menerima hadiah yang kata malaikat dari Tuhan itu. aku takut, jujur.





"tapi aku takut" ku letakkan kaktus itu di tanah basah di bawahku. ya, hujan baru saja tiba beberapa saat lalu sebelum malaikat mengetuk pintu rumahku.


"takut kenapa lagi?" malaikat menggeleng-geleng heran sambil sedikit berdecak.


"aku takut membuat kaktus kecil itu mati" saat mengatakan ini, bibirku gemetar. rahang bawahku goyah.


"makanya disiram perhatian setiap hari" jawab malaikat dengan santainya. kemudian bersenandung lirih sampai membuat telingaku sedikit berdengung.


"aku rasa.....aku tidak punya banyak waktu untuk melakukan itu" kataku ragu sambil berjongkok memperhatikan kaktus...yang memang terlihat berbeda dari jenis lainnya.


"tapi aku pikir kau bukan tidak punya waktu, tapi tidak punya kemauan"
kalimat malaikat barusan seperti petir yang datang tanpa hujan. menusuk langsung tepat di sasaran hingga rasanya nyess seperti sepotong besi yang baru saja ditempa kemudian dimasukkan ke dalam bak air.


"lagipula, aku tidak becus merawat tanaman. kau lihat banyak tanaman yang mati di tanganku, kan? aku bukan tipe perempuan yang pandai merawat tanaman, mengertilah" aku terus saja ngeyel, dan sedikit merengek padanya.


"tapi tidak untuk kaktus ini, percayalah" jawab malaikat sambil berlalu menjauhiku.



oh malaikat keras kepala, batinku.



"aku bukan keras kepala. aku hanya memberitahukan padamu bahwa Tuhan telah memilihmu untuk memiliki kaktus kecil ini!" 


kali ini aku takut melihat raut muka malaikat yang mendadak berubah. ada kesan sangat serius yang membuatku bergidik, takut. mungkin dia kesal denganku karena begitu berbatunya kepalaku. aku lihat dia menggeleng-geleng.




melihat malaikat berkacak pinggang di depan pagar rumahku dengan tatapan seperti ingin memakan orang, aku melonjak kaget, ngeri. malaikat juga bisa marah, batinku. kemudian dengan ragu kuambil kembali kaktus yang tadi kuletakkan sembarangan di atas tanah. malaikat benar-benar datang untuk meyakinkanku bahwa aku bisa melakukan ini nanti. malaikat membawa pesan bahwa Tuhan memberikan kepercayaan padaku. Tuhan mempercayaiku.





akan tumbuh seperti apa kau nanti? tanyaku dalam hati sambil menggigit jari.










kupandangi kaktus itu dengan jeli (bentuknya yang memang tidak biasa sedikit membuatku lega bahwa dia memang berbeda) sebelum akhirnya aku menyadari bahwa malaikat telah pergi.











aku tersenyum,"be nice ya, kaktus kecil!"







Read more »

May 18, 2013

Perempuan Tanpa Pasangan (1)

"aku menginginkanmu, nona"
"aku?"
"iya"
"untuk?"
"ehm...."

*

di luar sana pagi. dan nona masih saja betah terpejam. baju-bajunya berserakan di lantai berubin yang dingin. tubuh tanpa bajunya masih meringkuk di balik selimut halus beludru hijau. matanya yang manja enggan membuka sekalipun tirai jendela sudah tersibak dan matahari pagi telah menyengat dinding - dinding di sekelilingnya.

aroma kopi menguar sampai masuk ke dalam hidungnya. menghantarkan sensasi luar biasa hingga matanya yang manja terbuka dengan lebarnya. nona suka kopi. matanya yang berwarna kehijauan karena softlen tampak begitu bergairah menelanjangi kamar untuk mencari sumber bau harum itu. dilihatnya secangkir kopi terduduk manis di meja rias.

"selamat pagi, sayang"
sapa seorang laki-laki dari balik kursi.

"hm......." tanpa basa-basi nona menyeruput secangkir kopi yang tergeletak di atas meja rias.

"tidurmu nyenyak sekali sampai aku tidak berani membangunkanmu." laki-laki itu bergerak mendekati nona yang berdiri dengan sebelah tangannya memegang selimut, yang menutupi separo tubuhnya.

laki-laki itu mengecup pundak nona. lalu kemudian membelai rambutnya, dan mendaratkan kecupan di puncak kepalanya juga.

nona diam saja. dia masih berkutat dengan kopinya yang hangat. kopinya yang nikmat. dia tidak mempedulikan sapuan tangan laki-laki itu mendarat di pinggangnya.

"nona...."
"hm......."
"aku menginginkanmu"
"untuk?"
"ehm....untuk menjadi istriku"

nona menelan kopinya dengan tergesa sampai hampir tersedak. dilihatnya wajah laki-laki itu dengan seksama. air mukanya sempat berubah namun kemudian menjadi normal kembali.


"jangan mimpi." katanya santai.
"kok?"
"jangan pernah mencoba bermimpi untuk memilikiku," jawab nona sambil mencolek ujung dagu laki-laki itu.


nona melipir. jalan dengan santainya menuju kursi masih dengan sebelah tangannya mencengkeram selimut. lalu kemudian dia duduk dengan anggunnya. sebelah kakinya disilangkan dengan sombongnya. matanya yang liar menatap kesetanan laki-laki yang berdiri di hadapannya.


"punya apa kau sampai berani menginginkanku?" nona kembali menyeruput kopinya.


"aku punya segalanya. uang, harta benda, rumah, mobil, tanah. aku punya semuanya." kata laki-laki itu sambil bergegas mendatangi nona. ditariknya tangan nona dengan tergesa. diciumnya berulang kali demi meyakinkan perempuan di hadapannya itu.


"ada satu yang tak kau punya," kata nona santai.

gerakan laki-laki itu sempat terhenti untuk memandangi mata ayu nona, namun kemudian dilanjutkan lagi.
"apa? aku punya semuanya" laki-laki itu tampak yakin.




"kau tidak punya hati" jawab nona sambil mengibaskan tangannya agar terlepas dari genggaman si laki-laki itu.


"hati? kata siapa aku tak punya hati? akan ku buktikan padamu kalau aku mencintaimu. kalau perlu, belah dadaku agar kau bisa melihat hatiku," laki-laki itu mulai panas, wajahnya mulai merah padam.

"hah, gombalan anak TK!" nona mencibir.

"aku serius" jawab laki-laki itu mantap.

"baiklah." nona bergerak. diletakkan cangkir kopi di di meja sebelahnya. ditinggalkannya laki-laki yang tengah bengong itu dengan santainya. diirinya kini berada di depan meja.

nona memutar tubuhnya untuk melihat gerak-gerik laki-laki itu. di genggamannya kini terselip pisau buah yang dia dapat dari atas meja rias.
laki-laki itu tampak kaget. jakunnya bergerak. ludahnya tertelan dengan terpaksa. matanya tampak sedikit ketakutan. dia mundur beberapa langkah sebelum nona bergerak mendekatinya.

"apa yang akan kau lakukan?" suaranya tampak bergetar. dan nona hanya membalasnya dengan senyuman nakal.

"tadi kau bilang minta dibelah dadamu agar aku bisa melihat hatimu?" kata nona sambil mempermainkan pisau buah di tangannya. kakinya maju beberapa langkah untuk sampai tepat di hadapan mata laki-laki itu.

"bu...bukan membelah beneran, maksudku....."
"membelah seperti apa maksudmu?" nona pura-pura memeriksa ketajaman pisau itu. matanya yang bening bermain dengan lihainya sampai mata laki-laki itu enggan untuk menatapnya langsung.

tubuh laki-laki itu benar-benar bergetar. melihat itu, nona cekikikan lalu kemudian muncul gelegar tawa di kamar. nona tertawa terbahak-bahak. sementara laki-laki itu bingung.









"bodoh" nona melemparkan sembarangan pisau itu ke sudut kamar. entah jatuh dimana dia tidak peduli. kemudian dia berjalan santai menuju jendela.











"mau kau kemanakan istri dan anak-anakmu?" tanya nona tiba-tiba setelah sebelumnya berhasil meraih gagang cangkir kopi yang dia letakkan di meja lalu menyeruput kopi terakhirnya di sisi jendela sambil menikmati cahaya matahari.

dilihatnya mata laki-laki itu seperti mencuat ingin keluar. nona menyeringai. dia mendengus lalu kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. ekspresi kaget yang sangat sempurna. mungkin jantungnya sekarang sedang benar-benar seperti habis jogging sepanjang 10 km.










"laki-laki seperti kamu tidak berhak untuk memiliki seorang perempuan tanpa pasangan sepertiku"






Read more »

May 17, 2013

Kataku

"aku bahkan bisa menendangmu kapan pun aku mau"
"kau tidak akan melakukan itu padaku"
"kata siapa?"
"kataku!"

*

jalang ini kembali. perempuan ini sudah duduk lagi dalam sesinggahan pribadinya. taring giginya yang keemasan sudah menghiasi sudut - sudut bibirnya. meruncing dan siap menerkam semua mata di hadapannya.
ia menyeringai. dilihatnya pemuda itu diam mempersiapkan pidato terakhirnya.

"sudah satu jam kau duduk manis di kursi itu." kata perempuan itu mempermainkan ujung rambutnya yang menjuntai. lalu berdehem keras.

"kau tidak bosan merangkai kalimat yang bahkan mungkin tak akan ku dengarkan itu?"
pemuda itu menghentikan coretan tangannya di atas kertas lusuh yang diambilnya di gudang belakang rumah. kemudian kepalanya mendongak, memperhatikan perempuan yang tegak berdiri menyandarkan punggungnya di dinding tanpa warna di belakangnya.

perempuan itu menggerakkan tangan kanannya menuju saku. dirabanya isi sakunya. beberapa saat kemudian  di tangannya telah tergenggam sebatang rokok lengkap dengan korek apinya.

pemuda itu memicingkan matanya. "kau merokok?"

perempuan itu hanya mengedikkan bahu sambil menyulut rokoknya. asap putih mengebul di depan wajahnya yang tirus.

"sejak kapan?" tanya pemuda itu lagi masih dengan tatapan matanya yang seperti kelaparan.

"apakah itu penting?" perempuan itu bergerak, lalu berjalan ringan mendekati pemuda itu.

"sangat penting"
"kalau begitu kau tidak mengenalku"
"maksudmu?"
"kataku, kau tidak mengenalku"

"aku mengenalmu!" pemuda itu berteriak, lantang, sampai suaranya memantul-mantul manja di dinding tanpa warna itu.

perempuan itu kembali menyeringai. ditatapnya pemuda itu setengah geli.




"ini adalah bukti kalau kau tidak mengenalku. kau terlalu cepat memberikan putusan pada hatimu bahwa aku perempuan yang baik. padahal kan pengadilan belum mengiyakan aku bebas dari segala tuduhan?"

pemuda itu terdiam. salah satu tangannya sibuk meremas-remas ujung bajunya. sedangkan perempuan itu, tubuh perempuan itu terguncang, jantungnya berlarian tak keruan.

"mari kita lihat, seberapa lama kau mampu duduk di situ. seberapa kuat dirimu bertahan dengan sekumpulan kalimat yang memang mungkin tidak akan pernah masuk ke dalam hatiku"





"aku mencintaimu!" seru pemuda itu lirih, namun berhasil mengoyak dada perempuan itu dengan sempurna.


"tapi kataku, TIDAK"

Read more »

Seperti Itu...

"kau lihat awan hitam yang bergolak di atasmu?"
aku mendongak sesegera mungkin. mencari awan itu.

ku lihat sekumpulan awan abu-abu gelap menaungi diriku, seperti akan menjatuhkan hujan tepat di atas kepalaku.
dadaku berdesir melihatnya.
aku takut, hujan.

"akan hujan"
ku jatuhkan diriku di atas trotoar. ku cengkeram kuat-kuat ujung bajuku lalu ku gigit.
rasanya ngilu.
kau tahu bagaimana rasanya ngilu mampir ke dalam gigimu ketika segumpal es batu kau coba gigit kuat-kuat?

ya seperti itulah.
bedanya yang ngilu dadaku, di dalam dadaku ada sesuatu seperti gigi yang bisa ngilu.



aku tidak membawa payung, ataupun mantel hujan.
"kau akan kehujanan"

aku tidak mau kehujanan atau pun hujan turun!
satu bagian nyawaku akan menguap kalau tubuhku sampai terjamah hujan, lagi.


kau seperti kertas gambar yang dihiasi lukisan, yang takut terkena air hujan. 


ku pandang kiri - kananku.
tak ada jajaran pohon besar sama sekali untukku melindungi diri.
tempat ini tak berpenghuni. sepi.

tidak ada sebatang rumput liar pun yang tumbuh di sini.
gersang.



"kau dimana?"



di suatu tempat yang tidak ada seorang manusia atau tumbuhan tumbuh, hidup.




aku bergidik.




aku sendiri.
lagi.



hujan sebentar lagi turun. dan aku masih belum tahu kemana harus ku teduhkan tubuhku yang sudah menggigil duluan.
rasanya sudut mataku sudah berkedut. seperti awan hitam di atas sana yang juga tengah bergejolak.


"kau tidak boleh menangis!"




dan langit tidak boleh hujan!
seperti itu kah?

Read more »