December 6, 2014

This!

semua berubah jadi realistis. 
lihat, aku tak bisa menulis apapun. 
bahkan tentang cinta sekalipun.









Read more »

Menangis!

merendahkan dirinya sendiri. 
menjadikannya seperti sampah. 
ketika melihatnya tergeletak penuh luka di kaki dan tubuhnya, 
aku hanya bisa menahan napas dan tangisku sendiri. 
hatimu lebih terluka, kataku dalam hati penuh iba.

mata perempuan itu merah. bekas air mata masih kentara dengan jelas di bawah kantung matanya.
jangan menangis, gadis.
ada aku, bayanganmu.



Read more »

Selamat!

Selamat malam, malam. 
Aku singgah sebentar di emperanmu untuk menilik bulan yang malu melihatku tak berkaki. 
Akhirnya aku berani melihatmu dengan mata telanjangku setelah berbulan-bulan mengurung jasadku di rumah berjendela kayu tua itu.

Aku bisa apa. 
Ada banyak hal yang ingin kutumpahkan, kutulis, dan bahkan kuteriakkan kepada orang-orang terdekatku. 
Tapi sayangnya lidahku terus saja bergelung dan mulutku mengunci diri. 
Bahkan untuk menulis kalau AKU SAKIT pun aku tak mampu, aku sama sekali tak sanggup mengutarakannya, membagi beberapa kisah menyedihkan yang terus saja menghadang hidup, yang kadang membuatku berpikiran untuk berlari KE PENGAKHIRAN kepada pembaca maya pun aku tak bisa.

Aku hanya bisa mengucapkan selamat kepada para pemenang, para pejuang yang gigih mempertahankan hidupnya, mengejar mimpinya. Selamat kepada para pemilik garis finish. Selamat, kalian layak mendapatkannya.

aku?
pecundang!!




Read more »

Gayatri

Gayatri mengatupkan rahangnya rapat - rapat di ruang tunggu. Tidak ada satu kata pun yang meluncur dari bibir tipisnya. Air mata pun tak bisa jatuh padahal sudah penuh di sudut matanya. Kertas putih dari dokter yang membuat matanya nyeri dilipatnya kembali dengan hati - hati. Bagaimana bisa dia menerima vonis menyakitkan bagi hatinya setelah kepergian kedua orang tuanya beberapa waktu lalu?

Tuhan tidak adil. Itu kalimat pertama yang muncul begitu saja di dalam kepalanya.

Hidupnya telah hancur. Banyak utang yang harus dia bayar. Dia harus bekerja keras untuk menghidupi hidupnya. Lalu bagaimana bisa dia harus tergolek di kamar rumah sakit dengan bau obat - obatan yang jelas sangat tidak disukainya dan kemudian menelantarkan beban - beban hidupnya itu?

Ada sebotol cairan pembersih di sudut ruangan yang berhasil ditangkap matanya. Mungkin cleaning service lupa membawanya. Setelah melihatnya, timbul niatan untuk membunuh dirinya sendiri di sana. Bisa saja setelah menenggak cairan itu, dia langsung mati tanpa perlu merasakan sakitnya kemoterapi.

Gayatri....serius mau bunuh diri?





Read more »

Diancam

aku diancam, mau dimatikan.
lalu aku lari, ke hutan penuh jati.
di sana terbaring mayat-mayat dedaunan dan ranting tua, 
hanya itu saja, aku jadi gila.

aku diancam, mau dimusnahkan.
lalu aku lari ke kaki gunung merapi.
di sana tak ada apa-apa.
lalu aku semakin gila.


Read more »

Kekasih

kekasih datang, menghilang.
kabar melayang, tak bisa pandang.
aku jengah, lelah dan gundah.

kekasih diam, tanpa ungkapan.
aku jadi bisu, tak ada rayu.

kekasih dikubur jarak, aku berteriak.







Read more »

Anjing

mereka bilang aku anjing, liar.
mereka kataiku perempuan penuh sial.
kataku benar.

mereka bilang aku jalang, tak kenal diam.
kesana-kemari bawa petaka.
kataku iya saja.

mereka bilang aku sampah jalanan, 
mengganggu pemandangan.
kataku...


anjing ciptaan Tuhan!



Read more »

Berhenti (?)

aku akan berhenti 
di titik dimana mata tak lagi bisa melihat cahaya, 
dimana kaki sudah tak lagi bisa diajak kesana-kemari, 
dimana otak sudah tak bisa kubuat untuk berpikir lagi, 
dan dimana hati sudah mati.....

sudah sepatutnya dosa masa silam akan dibayar di masa depan. sudah wajar jika hutang harus dilunasi. sudah jadi takdirnya bahwa pembalasan akan datang dengan sendirinya...

berhenti...
dan aku berhenti (?) di sana untuk menunggu pembalasan datang, menunggu kematian menjemputku pelan-pelan...

berhenti...
di hadapan Tuhan.




Read more »