February 29, 2016

Never Ending Love Story

Cerita cinta ini adalah cerita tentang cinta yang tak akan pernah putus meskipun aku memiliki cinta lain. Cerita cinta yang tak pernah meminta balas dan pengakuan. Cerita cinta tulus dan murni dari mereka yang kusebut keluarga.

Bapak, Ibu, dan Kakak yang ada di rumah. Mungkin aku adalah salah satu orang yang susah sekali bicara cinta dengan gamblang di hadapan kalian. Tapi demi apapun aku mencintai kalian dengan sangat. Tak akan ada habisnya cintaku untuk kalian.

Untuk Ibu yang gampang menangis ketika melihatku bersedih, aku tahu bahwa hati Ibu lebih terluka daripada aku. Aku tahu pasti batin Ibu menjerit melihat anaknya kesulitan. Aku tahu semua dari raut wajah dan mata merah yang Ibu perlihatkan diam-diam. Aku merasakannya, Bu. Aku tahu Ibu cemas. Aku sadar Ibu sering memperhatikanku waktu tidur. Tapi Ibu selalu berusaha tegar. Ibu selalu menuturkan bahwa semua akan baik-baik saja. Ibu selalu memberiku semangat bahwa aku bisa bangkit. Ibu adalah wanita hebat, sosok terkuat yang harus kujadikan panutan kelak ketika aku jadi seorang Ibu juga.

Untuk Bapak yang tak pernah menunjukkan keluh kesah di hadapanku, aku tahu Bapak menyimpannya sendiri. Bapak menyembunyikan semua gundah yang anakmu ciptakan demi menjaga perasaanku agar tetap tenang dan tabah menjalani semua cobaan kehidupan. Aku tahu Bapak merasakan kesedihan melihatku jatuh sempoyongan di dunia yang keras ini. Aku tahu Bapak khawatir padaku tapi Bapak tak pernah bilang. Tapi untungnya aku bisa merasakan itu dan mencoba memahami bahwa Bapak adalah figur ketegaran. Terimakasih Bapak.

Dan untuk Kakak yang dingin dan jarang bercerita, aku tahu perhatian Kakak padaku sungguh besar. Kau terlihat acuh padaku tapi sebenarnya diam-diam kau peduli. Kakak tak pernah ragu untuk mengeluarkan uang atau pun tenaga demi aku. Rela menerjang panas dan hujan demi menjemputku pulang. Meskipun kadang kau membuatku jengkel dan berteriak karena kesal tapi aku menyayangimu lebih dari apapun. Aku tahu kalau Kakak adalah orang yang akan maju pertama ketika aku disakiti. Kau akan pasang badan untuk membelaku habis-habisan, seperti kasus itu kan? Terimakasih, Kak.

Kalian bertiga adalah nyawa bagi kehidupanku. Aku tak tahu lagi bagaimana jika aku tak dibesarkan oleh kalian. Cerita cinta keluarga ini terlalu panjang dan tak akan pernah ada akhirnya. Berpuluh-puluh halaman tak akan cukup untuk menceritakan semua hal yang ada di dalamnya.

Bapak, Ibu, dan Kakak terimakasih atas segalanya yang telah kalian berikan. I love you.

Read more »

February 28, 2016

Kangpos Cantik

Helo Kak. Mungkin ini adalah salah satu surat terpendek yang kukirim sepanjang 30 hari ini ini.

Kepada Kang Pos cantik dan kece, terimakasih banyak karena sudah menyisakan waktu untuk membaca, mengomentari, dan mengirimkan surat-suratku. Komentar-komentar singkat yang kau bubuhkan di akhir postingan twitter adalah apresiasi besar bagiku. Aku senang bukan main ketika mendapati komentar itu muncul di setiap malam. Aku merasa lega karena suratku sudah dibaca.

Sekali lagi, terimakasih Kak cantik. Semoga tahun depan aku bisa meramaikan #30HariMenulisSuratCinta lagi.

Read more »

February 25, 2016

Ini Hati, Bukan Warung!

Teruntuk kau yang hanya ingat kepadaku ketika ada perlu, mohon maaf kalau sekarang aku tak lagi mau jadi sandaranmu. Pergi cari orang lain. Aku tak mau membodohi diri sendiri dengan tetap berada di posisi tak mengenakkan ini. Sudah cukupkan segala permainan. Aku pun sudah lelah dengan huru-hara masa muda yang membosankan.

Aku bukan lagi sebuah boneka yang bisa kau mainkan ketika kau bosan dengan pekerjaan. Aku bukan lagi tempat yang bakal kau ingat ketika kau sedang susah saja lalu lupa ketika bahagia. Aku bukan lagi media yang bisa kau delete-add seenaknya setelah kau puas bercerita dan mengumbar kesedihan. Aku bukan lagi orang yang selalu ada ketika kau butuh teman bicara lalu kau tinggalkan ketika masalahmu selesai begitu saja.

Kau tak pernah ada ketika kubutuhkan. Kau selalu menghilang ketika aku membutuhkan sandaran. Kau pura-pura tak mendengar ketika aku memanggilmu meminta bantuan. Kau seenaknya saja datang lalu pergi tanpa pamitan. Buat apa aku selalu ada demi kamu yang egois itu? Kau tak pernah memikirkan perasaan si tukang mendengar ini. Lalu buat apa kupikirkan urusanmu yang begitu menyebalkan? Tolong jaga perasaanku. Ini hati, bukan warung!

Dari L untuk orang yang ngakunya teman tapi (ba****an) menyebalkan.

Read more »

February 24, 2016

Mari Move On

Hei hei aku sudah berani lari dari tempat menyesatkan itu. Aku tak lagi berdiam diri di tempat dimana aku tak bisa bangkit dari memori masa lalu. Aku...sudah bisa pindah.

Apa yang telah kau lakukan?

Ya. Aku berhasil meyakinkan diriku sendiri bahwa tak ada gunanya menangisi kepergianmu. Tak ada gunanya memikirkankan dirimu yang sama sekali (mungkin) tak pernah memikirkan bagaimana perasaanku. Tak ada gunanya merindukan lelaki yang tak pernah merindukanku. Dan tak ada gunanya lagi hidup di dalam kesedihan yang tak pernah ada ujungnya.

Bagaimana aku bisa move on? Apa yang sudah kulakukan?

Aku bertekad untuk membuang jauh-jauh pikiran dan kenangan tentang dirimu sepenuh hati. Aku berniat penuh untuk menghapus semua media yang bisa menghubungkanku denganmu. Aku sudah tak lagi ragu dan takut untuk kehilanganmu.

Aku telah berhasil men-delete nomor ponsel dan bbm mu.
Aku telah bethasil meng-unfriend dirimu dari daftar pertemanan di facebookku.
Aku telah berhasil meng-unfollow (dengan cara block-unblock) path dan intagram juga twittermu.

Aku telah lulus dari ujian patah hati berkepanjangan. Aku tak akan lagi menyia-nyiakan kesempatan untuk bahagia. Kalau mengingatmu adalah sebuah penderitaan, harusnya aku lebih cerdas untuk melupakan dan memilih jalan kebahagiaan.

Kini sudah tak ada lagi kamu di semua sosial mediaku. Aku sudah siap menjalani hidup yang baru. Lalu bagaimana dengan kamu? Mari move on!

Read more »

February 23, 2016

Gadis Dua Empat

Woey gadis dua empat. Apa kabar? Baik-baik saja kan? Semoga tak sakit-sakit an. Kan sudah ada yayang di sana. Hahay. Surat ke dua empat ini aku tulis khusus untukmu yang lahir tanggal dua empat dan tepat usia dua empat.

Oh ya bagaimana kabar ibukota? Aku berjanji akhir bulan akan ke sana, tapi sepertinya belum bisa. Maklum, aku masih sibuk menanam padi dan sayur-mayur di desa.

Sudah seminggu lebih sepertinya kita tak bicara. Kenapa? Alah kau dan aku pun sama-sama tahu tak pernah ada alasan khusus untuk itu. Tiba-tiba diam tak pernah jadi soal. Dan jika mendadak ada topik aneh, gila, gak masuk akal, unik, dan lain-lain kita pun akan bicara dengan sendirinya. Kau seharusnya sudah tau bahwa kapan pun kau membutuhkanku, aku akan ada untukmu.

Kau ini sudah kuanggap adik, teman, sahabat, keluarga, musuh, rival. Jadi kau adalah salah satu orang penting dalam hidupku. Kalau kau mendadak sakit, aku akan bingung meskipun itu cuma sakit flu. Kalau kau disakiti si itu si inu aku ikut gemas sendiri dan ingin menonjok pria-pria itu. Dan kalau kau diperlakukan tidak adil oleh si A si B aku ingin ikut bicara padanya bahwa kau tak layak diperlakukan seperti itu.

Aku tak bisa menjelaskan panjang lebar betapa berharganya dirimu. Tidak perlu dikatakan bukan? Tapi kau harus tahu bahwa kau sangat berarti bagiku. Gadis jutek yang pertama kali kutemui sedang duduk di pojokan lobby kampus sambil mengotak-atik ponselnya itu tak pernah kupikirkan bakal bisa sedekat ini. Sudah hampir enam tahun bukan? Semoga saja bisa seterusnya. Sebab kau satu-satunya orang yang bisa kuajak bicara gila, kotor, mengumpat, dan membicarakan banyak hal tanpa perlu pakai bahasa formal.

Terimakasih sudah menjadi teman dan keluarga. Terimakasih untuk semua kebaikan, keburukan, kerepotan, kejengkelan, kekonyolan yang kau ciptakan. Kalau bukan demi dirimu mungkin aku tak akan serepot itu saat kau diwisuda dulu. Hahahahaha.

Oh ya, aku sudah berjanji padamu bahwa aku akan menyusulmu di ibukota, ya aku akan menyusulmu. Jadi tunggu aku di sini menyelesaikan tanggunganku. Kuharap kau jangan ingin menikah dulu. Mari kita menggila bersama sebelum sama-sama ke penghulu. Hahahahaha.


Salam sayang untuk Dii *Hueeekk*

Read more »

February 22, 2016

Kebodohan Berulang

Setiap malam, saat sendirian saja, saat kedua telinga tersumpal earphone, saat lagu yang terputar begitu syahdu didengar maka saat itulah ingatan akan dirimu datang tanpa diundang.

Hal ini terus saja terjadi setiap diriku didekap sunyinya malam tanpa teman. Diriku tiba-tiba dihampiri rasa kesepian, maka disitulah bayanganmu kembali muncul perlahan dan melesak masuk ke dalam hati hingga timbul rasa rindu yang tak tertahankan.

Kebodohan ini terus saja datang dalam waktu yang tak bisa kujelaskan kapan akan terulang. Kebodohan ini tak punya siklus pengulangan yang pasti. Semua serba tiba-tiba, tanpa direncanakan tentu saja.

Jujur aku tak mampu mengarahkan kemana isi hati harus melangkah. Aku tak dapat mencegah rasa rindu itu datang. Kuakui aku memang bodoh. Tapi memang tak pernah ada rumus mutlak untuk memecahkan masalah seperti ini, perihal rindu yang tiba-tiba datang tanpa diminta itu. Andaikan engkau berada di posisiku, bagaimana cara mencegah ingatan datang?

Aku tak bisa membohongi diriku sendiri bahwa selalu ada celah waktu dimana aku akan mengingatmu dengan sangat.
Kemudian aku akan menangis karena merindukanmu dan membodoh-bodohkan diri sendiri atas keegoisan meninggalkan dirimu yang memang menyebalkan. Aku ingin bertahan, menjadi perempuan kedua yang akan terus kau perhatikan. Tapi itu bodoh bukan? Dan bodohnya lagi, aku merindukan kebodohan itu.

Tapi ini hanya perasaan sesaat saja. Hanya semalam akan bertahan. Ketika esok tiba semua pikiran dan perasaan bodoh itu menghilang begitu saja. Aku akan lupa tentang tangisan semalam. Kekonyolan yang kutimbulkan karena perasaan sesaat itu akan membuatku tertawa esok harinya. Namun aku tak bisa menjamin bahwa suatu saat kebodohan perasaan itu tak akan berulang saat malam sunyi datang. Pasti akan terulang lagi, pasti.

Untukmu, A. Dari L yang bodoh.

Read more »

February 21, 2016

Dari Hamba, Untuk Tuhan

Hamba ini masih seringkali liar, nakal, dan bebal dalam mengikuti surat-surat cinta dalam kitabNya. Hamba ini masih jauh dari kata taat untuk menjalankan segala perintah dan menjauhi laranganNya. Hamba ini masih jauh dari kata sempurna sebagai "budak" yang rela sepenuh hati mengikuti segala titah Tuhannya.

Terkadang aku melupakanNya. Dan tak jarang aku menghindariNya. Seringkali aku berpaling ketika bahagia dan mendekat padaNya ketika menderita. Bersujud kala lima waktu "pertemuan" pun bisa dihitung jari, kadang genap dan kadang tidak. Ampun, ampuni hamba Tuhan.

Kata ampun dan maaf terus saja kuucap ketika aku berdosa dan membuat salah. Tapi kemudian aku lupa bahwa aku lalai lagi, bersalah lagi, melakukannya lagi. Aku melupakanMu lagi. Aku meninggalkanMu lagi. Kemudian aku menyerahkan diri lagi, bersujud sambil berair mata memohon pengampunanMu. Dan Engkau memberiku kesempatan lagi tanpa rasa benci.

Bagaimanapun aku, seburuk apapun diriku, sedosa dan sehina apapun aku Engkau selalu memaafkan dan memberi kesempatan memperbaiki diri berjuta-juta kali untuk hambaMu yang bandel ini. Engkau Maha Memaafkan, Maha Pengasih, Maha Penyanyang. Bagaimana aku tak bersyukur atas segala kesempatan dan kebaikanMu?

Kau tak pernah melupakanku. Kau mengasihiku seperti hamba lainnya. Kau tak membedakan. Kau memberikan semua hambaMu keadilan dalam segala hal. Kau tak pandang usia, harkat, derajat, martabat untuk memberikan kasih sayang, keadilan, dan segala kenikmatan. Kau terAgung dari seluruh keagungan, Engkau Maha Segalanya.

Engkau Maha Adil dalam setiap rezeki yang aku miliki. Engkau adalah Tuhan yang akan terus melimpahkan keberkahan bagi mereka yang terus bersyukur atas segala kondisi di hidupnya. NikmatMu bertambah seiring bertambahnya syukur yang aku persembahkan untukMu. Terimakasih, Tuhan. Alhamdulillah atas segala berkah. Segala puji bagi Allah.

Yang Maha Kuasa, wahai pemilik seluruh alam...hamba berdoa semoga ada masa ketika kelak hamba sepenuh hati patuh dan taat pada seluruh firman dan surat-surat dalam kitabMu, dan mengabdikan diri pada surgawi.

Terimakasih atas segala kesempurnaan ragawi yang hamba miliki. Terimakasih atas segala nikmat. Terimakasih atas segala cinta dan karunia. Engkau adalah sebenar-benarnya Pemilik Seluruh Umat dan seisi jagad raya.

Sekian.
Dari hamba yang masih bandel, untuk Tuhan Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang dan Maha Segalanya.

Read more »

February 20, 2016

Kepada Hujan

Hei hujan, sudah dua hari ini kau tak datang sampai membuat tubuhku gusar karena kepanasan. Matahari terlalu merajai semesta sampai kau harus menyembunyikan diri untuk membangun energi.

Hei hujan, datanglah ke tempatku. Turunlah dengan deras agar aroma wangi tanah basah bisa kucium kembali. Mungkin aku tak lagi bisa menikmati euforia mandi hujan bersama kawan-kawanku semasa SD dulu di sepanjang gang perumahan. Tapi paling tidak kini aku bisa melihat binar bahagia itu dari mata anak-anak kecil di sekitar rumahku.

Hei hujan, tidakkah kau ingat bahwa saat kau turun aku selalu menemanimu dengan sabar di balkon rumah sambil menyeruput madu hangat? Jangan lupakan kehadiranku yang selalu duduk manis menatap langit kelabu sampai kau menghilang dari pandangan.

Hei hujan. Denganmu aku bisa menjadi sendu, denganmu aku bisa ceria, dan denganmu aku bisa leluasa bicara tentang cinta yang tak kunjung tiba.

Hei hujan, aku menunggumu datang. Jangan pergi-pergi lagi! Aku sendirian, kesepian, dan keringetan.

Read more »