November 30, 2011

Kepada Remang dan Terang

Kepada remang :

Maafkan saya,
Saya pergi kali ini atas kehendak sendiri. Kali ini saya tidak akan memohon pada anda untuk tetap berada di sisi saya. Kali ini saya yang memutuskan untuk enyah dari kehidupan anda. Jujur, saya sangat merasa rikuh dengan "cap" sebagai orang ke tiga meskipun (mungkin) anda tidak pernah menganggapnya seperti itu. Hanya saja, saya sangat menghargai wanita anda. Saya tahu benar bagaimana perasaan wanita apabila lelakinya menyukai wanita lain. Karena itu saya putuskan untuk pergi. Sakit. Itu pasti. Dan lagi, saya juga tidak mau melihat dia menyuguhkan status "sayang"nya untuk anda. Saya memang sempat cemburu setengah mati (kemarin) namun tiba-tiba entah ada angin apa, si Biru datang tanpa saya minta. Syukurlah. Paling tidak ada secercah sinar yang bakal membuat hidup saya lebih bahagia, di sini.

Terima kasih atas semuanya. Atas kejalangan yang pernah saya buat pada anda. Atas segala nasehat gila. Atas segala makian mematikan yang selalu anda tujukan pada saya. Atas keremangan yang pernah kita buat, terima kasih.....saya tertarik pada anda, saya menyukai anda. Hanya saja....saya harus sadar, saya orang ke tiga. Dan tidak mudah sekali menjadi orang ke tiga, apapun alasannya orang ke tiga tak pernah benar. Saya, yang pernah datang di kehidupan anda cukuplah menjadi bagian terkecil dari kisah hidup anda. Atau kalau anda begitu jijik pada saya, yah...lupakan dan buang jauh-jauh segala akses yang bisa membuat saya atau anda saling "melihat". Maaf sekali lagi jika saya tidak bisa bertahan dengan keremangan itu. Maafkan untuk semua kesalahan yang pernah saya perbuat pada anda.
Terima kasih banyak. Kembalilah pada kehidupan anda sebelumnya. Berbahagialah. Dan, anda menang. SELAMAT.

Satu kata terakhir untuk KEKASARAN anda sampai detik terakhir saya menulis ini secara baik-baik dan anda malah (seperti biasanya) mengumpat KOTOR, untukmu : FUCK YOU, BABY


Kepada terang :
Dengan berat hati saya harus katakan, saya minta maaf...
Saya sangat tahu benar bagaimana anda mencintai saya, bagaimana anda menyayangi saya. Hanya saja, saya benar-benar tidak bisa mengatakan apa-apa. Perasaan yang saya punya untuk anda adalah remang. Saya mengatakan anda terang, karena saya tahu dengan pasti bagaimana anda menganggap saya. Namun, saya harus berulang kali minta maaf karena menyakiti anda. Saya mohon, berhentilah menyiksa diri anda sendiri. Saya tidak meminta anda untuk melupakan saya, saya tidak menyuruh apapun kecuali tolong jangan siksa diri anda. Maafkan, saya tidak bisa membalas apa-apa. Saya tahu, anda sakit hati atas kelakuan saya. Hanya saja, ya seperti inilah saya. Anda tahu benar bagaimana saya kan? seorang egois dan keras kepala? Saya, wanita ini tidak lebih baik dari wanita yang mencintai anda dengan tulus itu. Cobalah, sekali saja buka hatimu. Bukankah tidak baik jika mencintai orang terlalu dalam?

Terima kasih atas cinta yang anda punya untuk saya, terimakasih untuk semuanya. Untuk ketabahan dan keikhlasan anda menerima saya apa adanya. Jujur, saya terlalu bejat untuk anda. Dan saya harap anda mendapatkan wanita yang sama dengan anda, wanita baik-baik pastinya. Terimakasih....maafkan jika saya tidak memilih anda. Kita tetap menjadi saudara kan? anda adalah sahabat saya.

Lanjutkan hidup anda, wahai sahabat. Saya menyayangi anda seperti saya menyayangi teman-teman yang lain.

Untuk remang dan terang :
Saya putuskan untuk tidak menjadikan kalian berdua sebagai sumber "kegilaan" saya, sebab jika saya melakukan "kegilaan" pada kalian, bakal ada yang sakit hati, segi empat emas. Saya care dengan terang, tapi tidak bisa mencintai terang. Saya suka pada remang, tapi saya tidak bisa melanjutkannya. Maka dari itu, saya memilih pergi dan memilih si Biru yang tiba-tiba datang tanpa saya minta. Yang membawa sesuatu untuk saya.
Saya akan bahagia. Pastinya. Bye.....


Saya yakin, si remang bakalan muntah membaca tulisan saya ini. Well, gak apa-apa kali ya? sekali dan untuk terakhir kali muntahlah. Kalau perlu muntah di lapak saya juga boleh. Asal, jangan lupa dibungkus plastik muntahannya dan jangan lupa untuk dibuang.



Read more »

November 29, 2011

Si Biru

tidak salah kan jika aku harus bergelayut dalam kebiruan yang kau ciptakan?
aku tidak mau remang, si abu-abu
juga tidak mau terang, si putih
aku ingin masuk dalam kegelapan yang kau ciptakan itu, Biru
biarkan aku masuk dan berdiam diri di sana :)

Aku melihatnya berbeda.
Gelitikan tulisan cadas dan apa adanya yang meletup dari dalam hatinya itu membuatmu merasa berbeda.
Sesuatu itu diam – diam mengusik sehariku.
Mencobaku untuk terus mengintip tulisan – tulisan gila itu.
Berjibaku dengan kejujuran yang keluar dari setiap katanya.
ah, kecewa hati lelaki ini meledak.
Gaya bahasanya yang natural memiliki daya magis untukku ingin terus membaca karya – karyanya.
Terkadang, aku ikut merasa sakit saat mencoba masuk lebih dalam ke setiap tulisannya.
Sang sastrawan menangis
Kesakitan merambati seluruh hatinya.
Kenangan itu


Sekedar memeluk tulisan itu ternyata tak lantas membuatku puas.
Hasrat lain pun muncul dari dalam diriku.
Menguar tanpa bisa dicegah sama sekali.
Sepenuhnya menuntut sesuatu yang lain .
Meledak tiap kali ku perhatikan sepasangan mata yang tertutupi acak adut rambut si penulisnya.
Dan kadang tak segan untukku ingin merasakan kelembutan jarinya.
Merasakan coretan tangannya tertujukan untukku dengan gaya bahasa yang lebih manis, tentunya.
Ah, aku terlalu bermimpi.
Dan lelaki jurusan sastra Indonesia ini membuatku sedikit…. Ah terpesona  :)

Biru ….

Aku sering menemukannya dalam tulisan - tulisan liar yang tertulis rapi di jajaran note orang – orang dalam lapak biruku.
Sering menemukannya di Bisikku Bukan Hantu dengan macam – macam kebiruan yang mengharu.
Keinginanku untuk menjamah tidak pada tulisanmu pun semakin membuncah, Biru
Gelora di ujung-ujung sarafku membuatku ngilu.
Ah, aku tergoda untuk menjelajahi kisah-kisah hidupmu.
Juga terdorong untuk mencoba memasuki hatimu yang kelabu itu.

Menyelami selubungan duniamu yang tampaknya begitu mempesona.
Bolehkah?
Bisakah?


Bisakah kita mulai sesuatu itu dengan sesuatu seperti ini? :)

Rentangkan tanganmu.
Buka lebar.
Agar aku bisa leluasa jatuh di pelukanmu.
Dan menikmati degup keras jantungmu di akhir senja.
Dan bergelayut manja di sana.

Dan menikmati aroma mint yang menguar dari tubuhmu.

Singsingkan lengan bajumu
Ajak aku berduet dengan waktu
Menari bersama kesempatan

Mari bermesraan dengan pasir
Mari berdansa bersama buih - buih putih
Lantai itu milik kita

Mari menari sampai pagi
Dan ketika fajar menyongsong di langit timur sana
Kecupkan salam termanis untukku, sekali saja


Namun lagi-lagi aku harus bertarung dengan sesuatu

Siap kalah seperti sebelumnya?
Entahlah, Biru
Namun,
Sematkan sesuatu padaku

Sesuatu itu, Biru
Read more »

November 24, 2011

Romance - Soulmate

Tolonglah berilah aku jalan
Untuk kembali dari sisi dunia
Yang gelap tanpamu kini
Saat kau pergi dari hidupku

Ku hanyut dalam mimpi-mimpiku
Saat kau pergi hilanglah semua
Tersesat aku melayang
Dan hilang bersama bintang-bintang

Malam ini ku menunggumu…
Kuslalu rindukan tuk bersamamu…

Reff
Oh cinta.. kau mutiara yang kucari
Semua yang tlah ada di diriku
Tlah hilang bersamamu…
Datanglah… cepatlah hadir disisiku
Jiwaku tlah hilang bersamamu
Peluk erat diriku…
Ow…Oh… Uh…
Read more »

November 23, 2011

Tuhan, Tolong

ku rasa getaran cinta
di setiap tatapan matanya
andai ku coba tuk berpaling
akankah sanggup ku hadapi kenyataan ini


oh tuhan tolonglah aku
jangan lah kau biarkan diriku
jatuh cinta kepadanya

sebab andai itu terjadi
akan ada hati yang terluka
tuhan tolong diriku


walaupun terasa indah
andaikan ku dapat juga dirinya
namun ku harus tetap bertahan
menjaga cinta yang tlah lebih dulu ku jalani


Berusaha memaknainya sendiri. Berusaha membacanya sendiri. Menganalisa masalah yang muncul dari dalam diri sendiri sebelum menemukan solusi pemecahan dan pengambilan keputusan yang tepat.
Di sinilah kepandaian berlogika diuji. Seberapa hebat dirimu membaca pikiranmu sendiri. Tidak hanya berusaha merasakan apa yang sedang terjadi, namun menemukan keganjilan yang pastinya akan didapatkan dan berusaha mencari solusi terbaiknya.

Pengambilan keputusan tidak terstruktur terjadi sini. Sebuah keputusan yang melibatkan subyektifitas pelakunya. Sebuah keputusan yang tidak jelas bagaimana struktur permasalahan dan pemecahan. Sebuah keputusan yang sangat tidak rutin terjadi di kehidupan dan tidak memiliki panduan dalam pemecahan. Abu-abu.

Sebelum pengambilan keputusan terjadi, dalam hal ini berkaitan dengan "isi hati", terlebih dahulu hendaknya seseorang mampu mengidentifikasikan problem yang sedang terjadi, apa problemnya dan bagaimana problem itu bisa muncul. Masalah hati, apa masalahnya? galau. Hati sedang galau ketika memikirkan si dia. Lalu bagaimana galau itu bisa muncul? Galau bisa terjadi ketika keadaan emosi seseorang sedang labil -ababil. Bisa jadi, kegalauan terjadi karena ekspresi berlebihan dari pelakunya (aku) juga. Terlalu banyak menonton film drama dan lagu-lagu sendu. Atau mungkin karena TREND galau itu sendiri yang sekarang menjamur di masyarakat (siapa sih yang menciptakan kata galau? *gatau)

Ketika sebuah problem kegalauan ditemukan, lalu muncullah beragam alternatif solusi untuk menghentikan kegalauan itu sendiri. Contohnya, coba hindari kontak telinga dengan lagu-lagu mellow, dan coba mulai dengarkan lagu-lagu rock, reggae, atau metal sekalian. Bisa juga pikirkan hal-hal indah. Mulai menonton drama komedi atau horor mungkin? Satu lagi, coba ajak bicara si dia biar hati tenang. Dan masih banyak alternatif pilihan pemecahan masalah galau.

Setelah alternatif solusi kegalauan diketahui, silakan dipilih, mana yang menurut kamu paling efektif dalam mengusir galau. Kemudian implementasikan, pastikan bahwa pilihan dari solusi pemecahan masalah galau karena cinta berjalan sesuai rencana.

Kenapa ngelantur bicara soal galau? Bukankah tadi menyinggung masalah "Tuhan, tolong" seperti lirik di atas? Entahlah. Lirik dan lagu itu muncul karena terjadinya kegalauan sebelumnya. Ketidaktahuan diri sendiri dalam memaknai perasaan macam apa yang sedang berkembang dan menuntut penyelesaian itulah yang menjadi penyebab galau.

Sesi curhat:
Suatu ketika, kamu merasakan sesuatu yang aneh yang tiba-tiba muncul ketika kamu tidak menemukan seseorang dalam lapak birumu. Ketika kamu....ah, sulit diungkapkan. Ketika kamu....mulai mencari yang tidak ada. Ketertarikan terjadi di sini. Ah. Galau lagi.

Ketertarikan terjadi di sini. Sepertinya yang tertarik hanya seorangnya saja. Aku. Ya. Aku sedang tertarik dengan seorang lelaki (beberapa hari yang lalu). Tahu gak sih bagaimana rasanya tertarik? Sulit dijelaskan. Seperti ini....ehm, ketika kamu....tadi sudah dijelaskan....tertarik adalah permulaan dari sebuah hubungan, kombinasi antara...apa ya? Begini, tertarik itu ketika kamu melihat seseorang itu luar biasa di matamu, berbeda dan unik, sehingga kamu merasa betah untuk melihat atau bahkan bercengkerama dengan dia. Well, sudah tahu kan tertarik? Itu loh...ya kamu merasa gemes dan geregetan gitu kalau ada dia. Tahu?

Setelah ketertarikan itu muncul, maka yang terjadi setelahnya adalah rasa ketergantungan. Waow. Ketika kamu mulai tidak bisa lagi menemukan dia dan bmengobrol ria dengan dia, pasti kamu akan mencarinya dan mulai merasakan RINDU. Nah, itu melibatkan rasa, perasaaan telah ikut campur di dalam sebuah ketertarikan. Ya. Seperti aku beberapa hari yang lalu. Dan level ini dinamakan sebagai suka. Hm, tapi aku ragu....apa aku suka padanya?

Setingkat lebih tinggi dari suka. Salah satu level dengan tingkat kegalauan tertinggi. Jatuh Cinta. Aku tidak mau jatuh cinta. Well, tahu bagaimana rasanya kan? Indah, iya. Sakit, juga iya. Lalu, pertanyaannya adalah....apa hubungannya dengan lirik lagu "Tuhan, Tolong"? Begini, seperti yang tertulis jelas di dalam lirik itu, Tuhan, ehm....tau ah, gelap.

Jadi intinya adalah aku terlalu takut dan mungkin belum bisa untuk mendefinisikaan dan mengidentifikasikan problem yang muncul ini, maka dari itu aku tidak bisa mengambil keputusan dengan benar. BUTA.
Aku cuma tidak mau melangkah lebih jauh saja, sebab ini semua bakal sia-sia dan .....endinganya pasti sakit hati saja. Hahahaha.
So, enjoy aja lah. Nikmati perasaan yang ada tanpa mengusik hubungan siapapun.

Masalah suka? Biar jadi urusanku saja.
Kalau ada yang tanya, "apa kau menyukainya?"
aku hanya bisa menjawab "Tau ah, gelap"
Read more »

untittle

butir halus itu menyemai.
mulai menyembul ke permukaan.

tanpa ragu menguap
menyebarkan noktah noktah

sedikit ujung raganya mengudara.
menghentak perlahan tubuh-tubuh ringkih tak berdaya.

terpengarah pada cahaya malam.
sedikit silau tertahan sentuhan.

menikmati rasa tertahan.
yang semua berakhir dengan kelam.

hanya aku menangis saja
bersama bayang sendu raga

tertikam sebilah ragu
menghantar penyakitan pilu

teriring tangis haru
segala bimbang bercampur jadi satu.

kepada makhluk bernyawa.
ku persembahkan cinta.


Read more »

November 22, 2011

Ruang Rindu

Persekutuan antara perasaku tidak berhenti sampai di situ, sebab segalanya akan tetep seperti itu selama kejalangan masih berdiam di sini, hati.

Sesuatu menyapu wajahku, sejuk. Angin semilir menggelepar, membuatku tanpa ragu menutup mata demi merasakan kenikmatan belaiannya. Di bawah teduh pohon mangga satu-satunya di antara semak yang menutupi aliran sungai kecil itu aku tertidur, menidurkan diri, merebahkan punggung di atas rerumputan liar. Headset mungil warna hitam masih menancap di kedua telingaku. Sekumpulan bunyian merdu mengalun indah, melodinya bermain-main lincah. Apik didengar telinga.

Di daun yang ikut mengalir lembut. Terbawa sungai ke ujung mata. Dan aku mulai takut terbawa cinta. Menghirup rindu yang sesakkan dada.

Mataku terbuka, pelan. Mencoba mengumpulkan sinar. Mengerjap-ngerjap pelan. Lalu ku perhatikan langit di atas sana. Biru. Di sisi langit lain ku lihat gumpalan awan putih menjelma menjadi sekelompok kawanan sapi. Sapi? Dahiku mengernyit. Kok sapi? Bibirku mengerucut. Lalu aku bangkit dan mendongak ke arah langit sebelah utara itu. Mengucek-ucek mataku yang pandangnya masih belum sepenuhnya normal. Kenapa semakin dikucek semakin timbul banyak bayangan sapi? Ah...kenapa harus sapi?

Bayangan lelaki itu muncul tiba-tiba. Di depanku. Seorang lelaki tanggung dua puluhan tahun sedang berjongkok memperhatikan tanganku yang tengah menari-nari di atas keyboard. Dengan kaca mata lebar frame hitam kotak itu dia memperhatikan setiap gerakan tanganku dengan seksama. Tak ada yang tertinggal. Bahkan ketika nyamuk berhasil menggigit tanganku, dia tahu. Sejenak disandarkannya dagu kecilnya ke meja lalu merebahkan kepalanya kemudian. Aku meliriknya sekilas melalui celah kaca mataku. Aku tersenyum geli mendapati dirinya tengah menguap.
"pulanglah....kau pasti lelah" bujukku tanpa meninggalkan mata dari layar laptop.
"nanti ah, nanggung...." balasnya tanpa mengacuhkan omonganku. Lalu setengah jahil dia memainkan puplen yang tergeletak di atas meja. Tok Tok Tok. Sampai menimbulkan bunyian menjengkelkan.
"sapi....berisik ah, nggak konsen nih" gerutuku tanpa menghentikan ketikanku.
"biarin. Emang lagi nulis apaan sih? serius amat? sampai aku dicuekin? lama nih nunggunya" dia merajuk
"siapa yang menyuruhmu menunggu? bukannya dari sejam yang lalu aku telah memintamu untuk pulang?" Kali ini aku harus melihatnya, mau tidak mau memandang wajah konyolnya yang menggemaskan itu.
"aku mau pulang bareng kamu" jawabnya singkat.
"aku masih lama pi, tugasku banyak, harus diselesaikan sekarang juga"
"gak bisa diselesaikan di kos saja?"
"gak bisa. Aku musti browshing terus. Modem lagi nggak ada pulsanya. Aku butuh wi-fi. Di kantin kan 24 jam. Jad........" belum sempat melanjutkan kalimatku, dia telah menutup paksa laptopku, sambil tersenyum penuh kemenangan, dia mengambil paksa laptop dan menaruhnya ke dalam ransel yang tergeletak di samping kanan meja dan menaruhnya di pundak. Aku berteriak padanya.
"sapiiiii!! apa-apaan sih? tugasku....arch......"
Tanpa berkata apapun, dia menyeret lenganku, memaksaku untuk mengikuti langkah panjangnya.
"sapi, tugasku! sialan. ilang itu ntar. Ya ampun...." aku memukul-mukul kecil bahunya.
"diam!" tiba-tiba suaranya meninggi. lalu dihentikannya langkah kakinyanya sampai membuatku tanpa sengaja menginjak kaki kanannya. Dilihatnya aku dengan gusar.
"apa?" aku menatapnya judes. Dia menatapku aneh.
"Paris"
Ces. Jantungku rasanya meninggalkan rongga dada, seperti masuk ke perut dan menghentak-hentak tak karuan. Detakannya membuat perutku mulas. Sampai keringat dingin mengucur. Kabar buruk muncul.

Jalanku hampa dan ku sentuh dia. Terasa hangat oh di dalam hati. Ku pegang erat dan ku halangi waktu. Tak urung jua ku lihatnya pergi

Ku tutup mataku lagi. Berharap bayangan lelaki itu menghilang. Dadaku berdebar ringan. Denyutannya normal namun cukup baik untuk membuat sebagian tubuhku terguncang. Ku telan ludahku sendiri. Ku hela napas panjang lalu membuangnya perlahan. Mataku terbuka lagi. Dan pemandangan malam itu muncul lagi.

Lama aku mencoba mencerna kalimat terkahirnya di lapangan basket tadi. Aku sempat menggigit bibir bawahku saat telah benar-benar menyadari tidak ada gurauan di dalam kalimat-kalimatnya. Dan aku sedang tidak bermimpi.
"baby....maafkan aku karena telat memberitahu ini. Bukan maksudku untuk mengagetkanmu. Bukan. Aku hanya berpikir bahwa...bahwa inilah waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya. Ehm....jangan menangis ya.....kita masih bisa ketemu kok, kan ada YM, ada facebook, ada twitter, ada koprol. Ya kan?" Safi berusaha tersenyum, mencoba meremas tanganku agar aku tenang, namun segalanya malah tak menjadi tenang setelah mendengar perkataannya tentang Paris, kota impianmu.

Dua hari sejak perkataannya tentang Paris. Aku mengurung diri. Tidak menerima sms atau panggilannya. Dan bahkan menolak untuk menemuinya. Aku tak peduli. Kejahatanmu terlalu besar. Kesalahanmu tak terampuni. Aku tak ingin menemuinya lagi. Paris telah membuatku benar-benar jengkel sebelum aku mendengar teriakanmu siang itu.

"kalau kamu gamau buka pintu kamar, ya sudah. Hm, aku berangkat jam 3 sore nanti by.....datang ke bandara ya, kalau sempat. Oya, aku mau memberimu ini. Aku taruh di rak sepatu ya By...aku pulang. Bye Baby Gracia....eh sorry, bukan Bye tapi See You. Kalau bye, aku nggak bisa ketemu kamu lagi donk By. See You ya, By...I'll miss you"
Aku tersenyum geli mendengar ucapan perpisahan darinya dari balik pintu kamarku yang terkunci. Safi....sapi gila. Di saat perpisahan seperti ini masih saja melucu. Namun, senyum tak bertahan lama di bibirku, sebab sesaat setelahnya aku menangis. Tubuhku melorot di lantai. Ku cengkeram kerah bajuku, mencoba menahan sakit. Hei, jangan menangis.


Tak pernah ku ragu dan selalu ku ingat. Kerlingan matamu dan sentuhan hangat. Ku saat itu takut mencari makna. Tumbuhkan rasa yang sesakkan dada.

Kembali menekuri memori dua tahun lalu. Kembali merasakan sakitnya kehilangan. Bersama desau angin yang melambai-lambaikan rerumputan gajah liar, ku benamkan seluruh perasaku ke sana. Mencoba mengingat segala kejadian yang terekam dengan sempurna bersama Safi, lelaki cerdas dengan mulut cadas, seorang pengguru yang hebat, seorang penutur yang ulung, seorang kocak, seorang gila. Tiba-tiba saja hawa gerah menyelubungi tubuhku meskipun jelas-jelas angin tidak malas untuk bergejolak. Seluruh tubuhku seperti tertikam gersang. Semua terasa panas. Bahkan terik matahari di atas sana tak sampai hati membuat keringatku mengucur deras, namun perjalanan singkat ini membuat peluhku jatuh berlarian, berjatuhan, dan membuat poniku menggumpal.

Sesaat kemudian, setelah tak ada suaranya lagi. Aku berdiri dan membuka kuncian pintu kamarku. Ingin melihat sesuatu yang dititipkan Safi di rak sepatu. Namun sebelum aku melongok ke rak, jantungku melonjak tak keruan ketika ku dapati Safi masih berdiri di depan pintu kamarku lengkap dengan senyumnya. Tanpa aba-aba aku memutar tubuhku. Menyembunyikan sesuatu yang tak boleh dilihatnya.


Debar aneh menelusup dada. Meringkuk. Memberontak saat mencoba ku bangunkan. Ingin rasanya meninju kuat-kuat sesuatu yang menumbuh tiba-tiba di dalam hati. Rasa itu muncul tanpa sempat ku cegah sama sekali. Duhai waktu, aku ingin memberontak padamu. Kenapa putar jam begitu cepat? Kenapa per jamnya hanya 3600 sekon? kenapa tidak 3.600.000 sekon saja? Ah, andai....andai aku bisa memutar balikkan waktu. Tak akan ku biarkan lelaki ini pergi. Hey, aku ingin dia tetap di sini. Meskipun kadang tingkah gilanya membuatku ikut gila namun aku menyukainya.


Kau datang dan pergi oh begitu saja. Semua ku terima apa adanya. Mata terpejam dan hati menggumam. Di ruang rindu kita bertemu.

Ku pukul-pukul tanah bertikar rumput itu. Mencoba melampiaskan kekesalan yang masih menggunung di dalam hati. Mencabut paksa rumput-rumput dini yang baru beberapa hari meninggi. Lagi-lagi aku memberontak, bukan pada waktu, namun pada rindu. Aku merindukanmu.
Aku merindukan setiap tutur busuk yang keluar dari bibirmu. Juga gumam tak jelas yang kadang meluncur saat aku sedang merasakan cinta. Seperti katamu dulu, dan jalang ketika cinta mulai masuk ke dalam ruas-ruas hatimu. Seperti kata pengguru yang meludahi setiap kata soal cinta. Ini omong kosong. Dia perbudaki otakmu sendiri dengan kelainan perasamu.

Sekarang, aku adalah jalang. Sebab telah merindukanmu dengan kejalangan itu.
Read more »

November 21, 2011

Aku Terbiasa

karena aku terbiasa jatuh, karena aku terbiasa terluka, karena aku terbiasa sakit, karena aku terbiasa menangis. karena itu, aku baik-baik saja.

Ku telusuri jalanan pangsud sampai raya darmo sepanjang sore tadi. Seperti biasanya, aku sendirian saja. Ditemani mp3 butut sambil bersiul sesekali. Ditemani pekak klakson-klakson kendaran yang tanpa ampun membisingkan jalan. Ditemani asap pekat yang membumbung di angkasa. Ditemani....kamu, malaikat kecil yang terus berlarian kecil di sampingku, senyum simpulmu menguatkan langkah gontaiku.


Lututku tiba-tiba melemas, persendianku rasanya terlolosi. Aku limbung dan hampir tersungkur di atas badan jalan. Tubuhku gemetar mencari pegangan. Lalu ku robohkan sebagian tubuhku di trotoar lebar depan rumah sakit Darmo. Mataku berair. Merabun seketika pandangku. Dadaku sesak. Aku terisak.


Napasku tersengal. Sesuatu mencengkeram kuat dadaku. Tenggorokanku sakit bukan main menahan tangis. Aku ingin berteriak pada setiap orang, aku ingin berontak padaNya, melampiaskan kekesalan yang telah naik sampai ke ubun. Aku ingin memaki. Ingin menjerti pada langit.

Tak ada wewangian, pun harum mawar, pun parfum seperti biasanya yang ku pakai. Tak ada ranjang tidur seperti di kamarku, tak ada meja, tak ada kursi. Aku meraba, cuma sepetakan bilik tanpa jendela.

Aku mencium sesuatu yang tak pernah tercium oleh inderaku sebelumnya. Bukan obat, bukan juga rumah sakit. Pengap. Aku hampir kehilangan napas. Dimana oksigen? dimana? aku hampir kehilangan napas.

Aku tak bisa melihat apapun, bahkan dari jarak pandang satu meter sekalipun. Padahal mataku telah melebar selebar-lebarnya. Ini dimana? kenapa semuanya gelap? buta kah aku?

Aku terisak sendiri di atas jembatan penyeberangan raya darmo dengan keadaan mata tertutup. Aku mengigau. Aku terbangun. Aku menengok kiri kanan. Jalanan ramai, langit masih di atas sana. Dan semuanya terang. Lalu ku sembunyikan kepalaku, menunduk memeluk lutut. Aku terisak, lagi.


oh, ini sakit Tuhan, sakitnya melebihi apapun, melebihi kehilangan seorang lelaki sekalipun.
tiba-tiba saja seorang anak jalanan menghampiriku. Tahu aku terisak, seketika dia lagsung menunduk, memperhatikan wajahku yang basah "kakak kenapa ?"


gadis kecil penjual koran berusia sekitar delapan tahun itu mengamati wajahku yang kusut. aku tersenyum padanya "gak apa2 kok dek, kakak cuma sedih aja" . 

dengan antusias dia bertanya lagi "sedih kenapa kak?". 
setelah mendesah sekali baru ku jawab "kakak merasa gagal" . 
dia bertanya lagi "gagal kenapa kak?" 
aku tersenyum padanya "gagal karena jadi anak bodoh dan tidak berguna" . 
dia bingung dengan jawabanku, aku lihat dahinya mengernyit tidak mengerti..  
sudah ya, jangan tanya lagi atau aku akan benar-benar menangis. 

lalu aku bangkit dari dudukku dan menyodorkan uang lima ribuan kepadanya. sambil tersenyum aku berkata "kakak beli korannya, tapi korannya buat adek aja" dia melompat girang. sambil berlalu aku masih bisa mendengarnya berteriak "kakak, terimakasih...." ku hentikan langkahku sejenak, lalu memutar bahuku dan melambaikan tangan untuknya. dalam hati aku berkata "jangan jadi sepertiku sayang, kau lebih berguna daripadaku, sesungguhnya..." dan dadaku kembali sesak, terguncang, sakit.

aku sudah berdiri di depan gramed. ada rasa enggan untuk memasukinya. namun aku harus masuk. aku ingin menenangkan diri. aku ingin berkutat dengan puluhan novel yang telah menantiku di rak-rak toko buku. aku ingin menyudutkan diriku di dalam sana. ya, menyendirikan diri dalam kesendirian...


karena aku terbiasa jatuh, karena aku terbiasa terluka, karena aku terbiasa sakit, karena aku terbiasa menangis. karena itu, aku baik-baik saja.


aku baik-baik saja. percayalah. jangan lagi kau bualkan katamu padaku dengan selentikan "semangat ya, sabar ya". oh, aku tidak membutuhkannya. aku telah terbiasa seperti ini. jiwaku lebih kuat dari apa yang kau bayangkan. aku lebih tegar dari apa yang kau pikirkan. biasa saja menanggapinya, jangan berlebihan. jangan menganggapku seolah rapuh dan patut dikasihani. aku bisa. sebab aku masih berdiri dengan kedua kakiku sendiri....


jangan menangis gadisku yang manis, jangan menangis sayang....semua akibat karena sebab, semua berjalan beriringan, hubungan timbal balik selalu ada, setiap kesalahan ada hukuman. bukankah kita telah mengerti? dan bukankah Tuhan telah menciptakan keadilan di sini? :')

aku memang terbiasa jatuh. namun, aku tidak pernah lupa bagaimana caranya berdiri (lagi)
aku baik-baik saja
Read more »

November 16, 2011

Terpenjara

Bersembunyi di balik tudung jaket coklat tebal, 
membiarkan pelupuk mata tertutup sebagian, 
menghimpit badan di pojok ruang berpetak. 
lalu bertanya pada malam, 
kemana larinya terang yang menyangga bumi tadi siang ? 

Memutar kepala, 
menengok kiri kanan mencari kepastian. 
Meraba pergelangan tangan, 
melirik arloji yang terpasang. 
Lalu menggerutu ringan, 
"sampai kapan aku di sini?"

Duduk dengan satu kaki 
menjuntai di tepi ranjang reot 
di sebuah bilik berpenghuni laba-laba beserta sarangnya. 
terkurung bersama debu yang menebal di atas meja dan kursi sebelahnya. 
tak ada nyawa yang bebas menahan napas di sana. 
sebab indera tak dapat jalan apa-apa untuk meraba udara. 
pengap...

pekik tolong menggema dalam ruang. 
tak ada sahut, pun juga sapa...
aku terpenjara.

Dan pada malam yang kelam, 
bersama debu dan teman - temannya, 
ku habiskan sisa malamku dengan ragu, 
akankah aku tetap di sini seperti musim yang lalu ? 
dan aku tak tahu itu
Read more »