January 1, 2014

Selamat Datang 2014

aku mau menulis lagi. aku mau membukukan seluruh kisah harianku di sini. tak akan kulewatkan satu kisahpun. akan kubagi. akan kuindahkan sendiri dengan kalimat-kalimat tak masuk akalku seperti dulu. aku tidak mau mati suri seperti tahun lalu, aku ingin tetap menulis, aku ingin tetap mengabadikan momen-momen kecil yang kulewatkan. ya, siapa tahu aku nanti mati tahun ini? jika itu terjadi, paling tidak ada sesuatu yang bisa teman-teman dan sahabatku baca untuk mengenang keberadaanku kembali.

mengenai 2013 lalu, adalah tahun tergelapku. tahun jahiliyahku. maka dengan senang hati aku bisa bilang "selamat, kamu telah melewati ujian dan cobaan seberat itu. tahun lalai dan mangkir telah berlalu. tahun ini adalah tahunku, tahun memulai segala sesuatunya dengan doa dan harapan. bismillah"








Read more »

Perempuan Gila

wahai perempuan gila, sudikah engkau meracik kata cinta untukku? dadaku berdesir pilu tatkala memandang kedua bola mata anda bergerak liar menelusuri satu per satu halaman buku setebal bantalku, di sudut ruang baca yang setengah ramai itu.

wahai perempuan gila, adakah sedikit saja ruang bagiku untuk bergabung denganmu sembari menikmati secangkir kopi pahit yang selalu kau pesan pada pelayan bergincu merah itu? mataku rasanya lelah memandangimu dari jarak sejauh ini. aku ingin memandangmu melebihi ini. sekaligus ingin kuhirup aroma kayu manis yang menguar di anakan rambut yang jatuh rapi di pucuk pundakmu ketika melewatiku.

wahai perempuan gila, mari kita berbagi kretek bersama. bagaimana rasa nikmat yang dihasilkan kretekmu? apakah bisa kunikmati juga ketika kretek kita saling disulut api? ah, aku ingin berbincang denganmu. aku ingin meluapkan kagumku padamu lewat penggalan-penggalan syair syahdu yang tentu saja tidak mahir kubuat untuk perempuan secantik kamu.

wahai perempuan gila, kau bisa mendengar kata hatiku?







Surabaya, ketika perempuan gila menggila di sudut ruangnya.



Read more »

Caraka

aku mendendam.
bisu kutanamkan pada hati yang tak lagi bisa diberi janji.

kau adalah manusia teguh dengan segenap rapuh.
kau adalah pasung bagi hati yang telah mati.
dan kau adalah lara yang memenjara.

aku terpenjara.
rindu kuhaturkan pada jeruji besi tempat kita mati.
aku ingin memetika luka.
dan menghadiahkan semua pada semesta.

nelangsa.
ribuan kata cinta menghambur meninggalkan tempatnya.
diisukan mati rasa dan kehilangan sadarnya.

kelahiran dan kematian rasaku padamu.
awal dan akhir di dadamu
apalah daya bagimu tak merindu?

lidahku pandai melukis seribu alasan palsu.
kataku lupa, kataku padamu hina
tapi hatiku bilang cinta,
rindu membabi buta

aku mendamba di pengkhiranku denganku




kepada Caraka, yang telah pergi 2005 lalu.
Read more »

December 19, 2013

Gak Diberi Judul

Kali itu aku menengadah, menatap langit lewat celah jendela di sisi barat. Semburat mega merah, wok. Aku melihatnya terpampang begitu indah ketika...ya ketika hujan belum datang sesering ini. Aku lupa tepatnya kapan, wok. Tapi, aku nggak lupa kalau saat itu aku kangen sama kamu. Nggak tahu juga yang dikangenin apanya. Hehehehe. Terdengar lucu ya, wok? :)

Akal sehatku berhenti, mungkin. Iya, kenapa bisa? Mendadak jadi sering kangen sama kamu, wok. Duh, tangan ini rasanya gatal pengen gandeng tanganmu trus aku ajak lari. Mau lari kemana?....ya kemana aja, asal sama kamu. Kamu mau nggak?

Aku bukan lagi yang dulu, wok. Tak bisa dengan gamblang menuliskan semuanya dengan kalimat-kalimat indah. Mungkin jadi realistis kali ya? biar nggak terdengar ALAY. Kekekeke. Duh, orang bersastra kok dibilang alay? -_____-

Aku mau alay dulu ya, wok. Ini buat kamu yang lagi melanglang buana di sana...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
aku nggak bisa nulis apapun, wok :'(
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
diakhirkan jalanku, senandung kuluruhkan bersama tetes hujan
aku terpana, menikmati kabut di bibir mataku
seketika kulumpuhkan ingatanku,
bukan untuk melupa, namun untuk terdiam di satu ruang

bilik kecil bersekat kapas, kutaruh rasaku padamu
dan bila rindu, kutengok dengan semauku.




salam rindu, Surabaya 19 Desember 2013
dear AS

Read more »

September 27, 2013

Tak Masuk Akal

seberkas hati, ku hakimi.
teladanku pada tegar kemarin sore lenyap diserbu rindu.


dia bilang aku kena guna-guna. dia bilang aku tidak waras sampai mengejar sesuatu yang tak punya arah. kataku padanya suka, kataku padanya sayang, kataku padanya rindu yang menyakitkan. namun katanya ku tak pernah begitu. ya kukatakan padanya memang ku tak pernah seperti itu.

ini tak masuk akalku dan akalnya. mencintai sebelum terjadi pertemuan tak memiliki kelogisan, begitu.
ya semua terjadi begitu saja. bukankah sudah dari zaman batu kalau cinta datang tak pernah memandang apapun yang ada di hadapannya, sekalipun tak pernah ada pertemuan. namun mereka, dia, bilang ini tak masuk di akal.

namun, ketika rindu benar-benar menyerbu dan rasa sakit membabi buta sedemikian rupa apakah tidak cukup kuat untuk menjadi bukti ekistensi cinta? dan kenapa pula musti bersendu ria ketika melihatnya bermesra ria dengan perempuan lainnya? oh cemburu.

tolong, siapapun...bantu aku melupakan atau mungkin sekedar mengalihkan perhatian.





Surabaya, 12:58 saat mendadak merindukan AP.
Read more »

September 25, 2013

So?

ketika kau melihatku sebagai seorang perempuan menjijikkan, maka itulah kamu. seperti itu jugalah kamu dengan segala bentuk penghakiman menjijikkan yang kau ciptakan sendiri. tidak ada satu manusia pun di dunia ini yang ingin direndahkan, tidak juga kamu. jadi? what you think about me is yours :)
Read more »

KKM: Bibir Beku

Bisa kulihat warna bibirnya tak lagi merah, mungkin luntur oleh jilatan penuh nafsu lelaki yang baru saja dia tiduri. Terlihat gincu belepotan di beberapa arah.

*

Rupanya perempuan itu terisak. Aku bisa membaca itu dari matanya yang berkaca - kaca, sekalipun bibirnya terkatup rapat. Bibirnya bergetar sekalipun senyum disunggingkan selama permainan. Ah, aku merasa ada yang tidak beres di sini. Sekalipun desahan yang keluar dari bibirnya membuat gairahku naik sampai puncak ubun - ubun, tapi tetap saja aku masih bisa menangkap 'sakit' dari desis - desis menggairahkan itu.


Kau kenapa?


Bibirnya dengan lugu melumat segala yang ada di depannya, namun air mata mayanya keluar mencuat dari suaranya. Apa kau tidak menikmati ini? lagi - lagi aku bertanya dalam hati. Harus ku apakan kamu agar mendapatkan desis bunyi menggairahkan yang selalu ku dapat dari perempuan - perempuan lainnya? Tidak bisakah kau berpura- pura sebentar saja sampai aku mencapai puncaknya?

Tidak pernah aku merasa sebingung ini ketika seranjang dengan perempuan. Senyum janggal menggoda yang dari pertama dia suguhkan ketika ku persilakan masuk ke dalam kamarku sampai pergumulan panas di tengah jalan ini masih saja membuat keningku mengerut heran. Tidak ada kata - kata sepanjang desahannya yang meluncur keluar dari bibir bergincu merahnya. Cuma satu dua patah kata saja yang berhasil kutangkap ketika aku bertanya, yaitu hanya jawaban "iya," "nggak," "ehm" itu saja. Ah, aku bingung. Tidak ada fantasi - fantasi liar yang dari kemarin lewat di pikiran gilaku terlaksana. Dan oh iya, biasanya perempuan - perempuan lain akan memanggilku beb, sayang, honey, bla bla bla saat kami bersama, tapi untuk dia....ah.....

Aku terhenyak ketika hampir mencapai ujungnya. Kulihat buliran air mata hitam jatuh membasahi pelipisnya. Seketika gerakan panasku terhenti. Aku tidak tega. Aku sama sekali tidak cukup mampu melihat perempuan muda ini menangis tanpa suara. Bibirnya menyunggingkan senyum bulan sabit, manis, namun ketika kutatap matanya ada pahit tersimpan rapi di sana.

"kamu kenapa?" dengan penuh kelembutan kuusap air matanya. kusingkirkan warna hitam maskara dan eyeliner yang mengalir di wajahnya. dia cuma menggeleng ringan dengan masih tetap tersenyum janggal.

"sayang, bicaralah!" kuusap pipinya, kusingkirkan anakan rambut yang menutupi wajahnya. kemudian kukecup keningnya.


Terus terang, aku tidak akan pernah bisa bercinta dengan suasana semenyeramkan ini. Sekalipun paras dan tubuh perempuan yang kini tertidur lelap di hadapanku ini begitu menggoda, aku tidak bisa melakukan ini dalam keadaan tidak bahagia atau suka sama suka. Dan dari kejadian tadi, aku bisa tahu sekalipun tidak ada kata-kata yang meluncur dari bibirnya kalau dia sedang tidak bahagia. Ada beban berat yang dipikulnya, ada rasa sakit yang tersirat dari tatapan matanya sekalipun bibirnya terus saja beku. Ah, perempuan ini......











"Mell....maafkan aku" katanya sebelum beranjak menuju kamar mandi.





Read more »

September 16, 2013

Really I Didn't Know

Romaji:
geu torok saranghadeon geu saram
irheobeorigo
taoreuneun nae maeumman
heuneukkyeo une
geutorok mideo watdeon geu saram
dora seol juriya
yejeoneneun mollasseonne
jinjeong nan mollanne
nuguinga bureo juneun hwiparam sori
haengyeona chajajulkka geu nimi aniolkka
gidarineun maeum heomuhaera
geutorok mideo watdeon geu saram
dora seol juriya
yejeoneneun mollasseonne
jinjeong nan mollanne
nuguinga bureo juneun hwiparam sori
haengyeona chajajulkka geu nimi aniolkka
gida rineun maeum heomuhaera
geutorok mideo watdeon geu saram
dora seol juriya
yejeoneneun mollasseonne
jinjeong nan mollanne
Translation:
The man I loved so dearly, has deserted me
And I am now weeping, holding with my wretched heart
The man I trusted with his love, has left me indeed
Honest God, I really didn’t know that he would leave me
Really, I didn’t know
The sound of someone whistling I hear
Perhaps could it be he?
Would he be back?
I am finding myself wretchedly waiting for him
The man I trusted with his love, has left me indeed
Honest God, I really didn’t know that he would leave me
Really, I didn’t know
The sound of someone whistling I hear
Perhaps could it be he?
Would he be back?
I am finding myself wretchedly waiting for him
The man I trusted with his love, has left me indeed
Honest God, I really didn’t know that he would leave me
Really, I didn’t know
The man I loved so dearly, has deserted me
And I am now weeping (And I am now weeping), holding with my wretched heart
The man I trusted with his love (with his love), has left me indeed
Honest God (Honest God), I really didn’t know that he would leave me
Really, I didn’t know
Read more »