October 19, 2012

Enam

Hei...
ingin sekali ku rebahkan cemburu di atas pembaringan terakhir
menutupnya rapat - rapat dengan sepotong kayu bernama keikhlasan
menguburnya dengan sekumpulan tanah basah bernama pisah
ingin....
aku ingin menjadikannya tiada dalam setiap bentuk napas
yang ku hela saat mataku menujumu
bisa?
Entah


Cemburu atas keberduaan antara Dee dan Key dan anaknya 

Surabaya, 19 Oktober 2012
dentang nol tiga puluh waktu setempat
Read more »

October 18, 2012

Lyn - Back In Time






















Gureume bicheun heuryeo jigo
Changgae yoranhi naerineun
Bitmulsori mankkeum shirin gieokdeuri
Nae maeum butjabgo inneunde

Galsurok jiteo jyeogan
Geuri ume jamgyeo
Shiganeul geoseulleo galsun eopnayo
Geuttae cheoreomman
Geudae nal anajumyeon
Gwaenchanheul tende ijen

Jeojeodeun bitgireul ttaraga
Hamkkehan chueogeul dorabwa
Heuryeojin bitmure tteooreun geudaega
Nae nunmul sogeseo chaollawa

Galsurok jiteo jyeogan
Geuri ume jamgyeo
Shiganeul geoseulleo galsun eopnayo
Geuttae cheoreomman
Geudae nal anajumyeon
Gwaenchanheul tende ijen

Heuteo jyeoga
Nawa isseojudeon
Geu shigando
Geu moseubdo

Dashi geuttae cheoreomman
Geudaereul anaseo
Shiganeul geoseulle galsu eopnayo
Hanbeon irado
Majimak iljirado
Gwaenchanheul tende

Read more »

Astrid - Mendua



ku tak habis kurangku dimana
kau tega melepaskan aku
jauh ku menatap namun terlalu jauh
imajinasiku terberai
terdiam aku beku tanpamu
didalam letak hatiku

kau putuskan tuk mendua
dengan dia di belakangku
padahal ku pilih dirimu
jadi cinta terakhirku

ku tak habis kurangku dimana
kau tega melepaskan aku
jauh ku menatap namun terlalu jauh
imajinasiku terberai
terdiam aku beku tanpamu
dimanakah letak hatimu

kau putuskan aku tuk mendua
dengan dia dibelakangku
padahal ku pilih kamu
jadi cinta terakhir

kau putuskan tuk mendua
dengan dia di belakangku
padahal ku pilih kamu
jadi cinta terakhir

kau putuskan tuk mendua
dengan dia di belakangku
padahal ku pilih kamu
jadi cinta terakhir
jadi cinta terakhir
Read more »

October 17, 2012

Ada Guru Di Mataku

Apapun dan bagaimanapun keadaannya, ada Guru di Mataku.

Tidak tahu darimana datang keberanian untuk menuliskan ini. Sudah lama dan sudah mengendap di kepala sejak terakhir kali momentum trenyuh dan tersakiti karena menonton sebuah acara di televisi swasta yang menayangkan sebuah sekolah SMA – yang menurutku tidak layak dijadikan sekolah – di sebuah daerah di Nusa Tenggara. Saya lupa daerahnya mana. Tapi yang pasti adegan itu masih terekam jelas di kepala. Masih dengan gamblang terbayang. Adegan saat upacara bendera itu… Adegan saat seorang guru memukul lonceng tanda kelas dimulai. Ah sebentar, sebelumnya saya akan mencoba mengingat sisi – sisi sekolah itu. Ada banyak bagian di sana yang belum saya jelaskan.

Sebuah sekolah yang berdiri jauh dari pemukiman penduduk, yang terletak di tengah padang ilalang. Dikelilingi oleh pohon – pohon besar serta rumput liar. Aroma wangi matahari menyengat langsung tanpa penyaringan. Hanya ada satu bangunan berdiri yang menampung siswa - siswa itu tadi. Bangunannya pun saya pikir bukan menyerupai bentuk sekolah yang pada umumnya, seperti yang ada di daerah kita.  Terutama daerah perkotaan besar seperti Surabaya ini tentunya. Juga di daerah desa saya yang saya pikir keadaannya jauh di bawah perkotaan tapi ternyata tidak semengenaskan itu. 

Dinding sekolah yang hanya terbuat dari kayu – kayu yang sudah lapuk termakan usia. Fentilasi yang langsung mengenduskan udara dari luar. Atap yang siap mengucurkan air ketika hujan tiba. Lantai tanah yang selalu becek jika air menggenang. Bangku kayu yang rapuh ketika diduduki. Papan tulis yang masih memakai kapur putih. Lonceng. Ah saya mengingat lonceng itu. Lonceng yang biasanya kita dengar ketika jam masuk, jam istirahat, dan jam pulang berdentang. Entah itu terbuat dari lonceng zaman Belanda yang bahannya dari besi besar lengkap dengan pemukulnya, atau lonceng listrik yang lebih kita kenal dengan bel yang sekali tekan, suaranya terdengar dari halaman depan sekolah sampai pojok belakang. Di sana tidak seperti itu. Loncengnya terbuat dari besi tua yang dipukul dengan batu. Astaga… miris. Air mata saya sampai mengambang di pelupuk dan siap untuk jatuh saat itu juga. 

Adegan upacara bendera. Hati siapa yang tidak bakal trenyuh dan luluh saat melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana mereka – calon penerus bangsa – melangsungkan upacara yang selalu dihela di hari Senin itu dengan sangat khidmat? tidak ada gaduh seperti yang sering kita lihat di upacara bendera pada umumnya. Hanya beberapa gelintir siswa dan guru yang berdiri di bawah terik matahari namun semangat yang saya lihat di mata mereka menggebu. 

Pernah. Suatu ketika mengikuti program KKN – BBM universitas (Universitas Airlangga) di sebuah daerah di Probolinggo, Jawa Timur.  Di sana, daerah pegunungan memang. Jauh dari pusat kota sehingga ada banyak keminiman yang saya temui. Banyak pengalaman yang bakal membuka mata bahwa dengan keterbatasan ruang dan semacamnya, mereka tetap ada (baca: Guru)


Foto di atas adalah saya dan kawan - kawan seperjuangan yang sedang melaksanakan tugas Universitas. Kami baru saja selesai mengajar di SDN Boto 1. Kami mengajar Bahasa Inggris dan Membaca di sana. Perlu diketahui, sebelum kami datang ke sana tidak ada mata pelajaran Bahasa Inggris sama sekali. Sehingga ketika kami datang, kami melihat antusiasme luar biasa dari mereka. Semangat untuk belajar begitu tinggi sehingga saya sendiri merasakan energi gila yang membuat saya tidak bisa mengendalikan perasaanku sampai terharu. Senang, sangat bahagia dan bangga bisa berada di antara mereka. 


Kalau yang ini adalah foto kami bersama beberapa guru dan Bapak Kepala Sekolah yang kece. (Lihat Bapak yang pakai batik putih hitam). Sedikit cerita. Bangunan di belakang kami adalah ruang guru dan kepala sekolah. Ketika pertama saya melongok ke dalamnya, decak heran keluar dari mulut saya. Bayangkan saja, dengan bangunan kelas yang memadai itu (lihat foto pertama), bangunan untuk singgah guru masih kurang layak untuk ditempati. Ruangannya kecil, hanya terdiri dari beberapa kursi dan meja guru saja. Alas lantainya dari ubin. Tidak seperti bangunan kelas yang beralas keramik. 

Di sekolah yang kedua saya menemukan sekolah yang jauh lebih baik dari sekolah pertama. Ruang guru dan kepala sekolah tidak seperti SDN Boto 1, SDN Boto 2 jauh lebih bagus dan fasilitasnya lumayan lengkap. Hanya saja masih ada satu ruangan kelas yang ambruk dan menunggu untuk diperbaiki sehingga ada shift kelas pagi dan siang.


Ada dua bangunan di belakang kami yang atapnya ambruk. Meskipun begitu, siswa - siswi di sana masih dengan senang hati masuk sekolah. Dan ketika kami datang, sambutan yang luar biasa pun diberikan. Mereka senang, apalagi ketika kami datang dengan menyodorkan pelajaran Bahasa Inggris yang memang tidak ada di kurikulum mereka. Duh, kasihan kan? bagaimana nanti mereka melanjutkan ke jenjang SMP dimana mungkin teman - teman sebaya mereka sudah mengusai dasar - dasar Bahasa Inggris dan mereka harus memulainya dari nol?

Dan di sekolah terakhir, SDN Boto 3 adalah yang paling jauh dan sulit dijangkau. Daerahnya yang sedikit masuk hutan membuat saya sedikit ngeri. Melewati jalan berkilo - kilo meter, masuk ke kampung yang dikelilingi pohon - pohon besar, dengan jalan berbatu dan licin. Astaga, saya melihat sekolah yang paling membuat saya miris. Memang bangunannya tidak seperti di Nusa Tenggara tadi yang beralaskan tanah, dinding kayu, atap rumbai, dan sebagainya. Hanya saja sedikit membuat sesak bagi orang yang melihatnya. Bukan hanya tidak ada kurikulum bahasa Inggris, tetapi.....



Sekolah ini paling kecil, hanya terdiri dari dua bangunan utama. Satu yang kecil itu adalah ruang guru dan kepala sekolah. Sedangkan yang di samping itu adalah ruang kelas yang hanya terdiri dari tiga kelas. Setiap kelas dibagi menjadi dua bagian dengan hanya dipisahkan oleh dinding triplek. Ya, mereka berbagi kelas. Apa yang bisa kalian bayangkan dengan berbagi kelas seperti itu? Suara gaduh membuat tidak konsen belajar, ya kan? Tepat seperti apa yang salah seorang guru katakan padaku.

Saya sempat berbincang dengan Ibu guru itu. Beliau bilang, memang di antara SD di Boto hanya SDN Boto 3 yang kekurangan kelas dan kondisinya sedikit memprihatinkan. Lihat saja anak - anak itu harus melepas sepatunya saat masuk ke dalam kelas karena sehabis hujan, dengan jalanan becek, tidak mungkin mereka membawa sepatunya ke dalam kelas. Bahkan ada yang tidak pakai sepatu dan hanya mengenakan sandal.  Saya sempat melihatnya ketika jam istirahat tiba. 

Di sana juga kekurangan guru, hanya ada dua atau tiga orang guru tetap. Sedangkan sisanya guru honorer. Honorer? Pikirku, patut diacungi jempol. Tenaga guru honorer dengan gaji seperti itu bisa membuat mereka bertahan di sekolah ini adalah bentuk dari pengabdian akan ilmunya yang luar biasa.

Dari dua tempat berbeda di atas, saya bisa lihat satu benang merah. Yaitu, di tengah keterbatasan yang ada mereka tetap berangkat sekolah. Anak - anak itu, saya tahu berasal dari tempat yang jauh. Mereka berjalan kaki berkilo - kilo untuk bisa sampai ke sekolah. Melewati hutan dan sungai. Bisa membayangkan? Ya, seperti yang biasanya banyak televisi tayangkan.

Itu hanya beberapa dari banyak potret nyata yang bisa kita lihat di seluruh belahan dunia INDONESIA RAYA ini. Tidak perlu jauh – jauh pergi ke daerah Nusa Tenggara atau daerah Probolinggo. Lihat ke daerah paling pelosok di kotamu. Masihkah menemukan bentuk sekolah yang bagi kita sangat tidak layak? Berdinding kayu, atap rumbai – rumbai, beralas tanah, atap ambruk, kekurangan kelas? Ya, seperti dalam film Laskar Pelangi, bukan? Andrea Hirata dengan cerdas menggambarkan betapa minimnya fasilitas belajar anak – anak negeri kita di daerah pelosok. Betapa kurangnya fasilitas yang seHARUSnya mereka dapat.

Ah bayangkan. Bayangkan jika kita berada di sana. Jauh dari pusat kota. Jauh dari buku – buku yang bisa kita dapatkan dengan mudah di toko buku. Jauh dari koneksi internet yang seharusnya bisa membuka mata lebar – lebar betapa kayanya dunia, betapa luasnya ilmu pengetahuan yang bisa mereka dapat dari sekali ketik di google. Bisa kita hidup dengan ketidaklayakan itu?

Saya tidak bisa habis pikir, dengan anggaran pendidikan yang dijanjikan sebesar 20% dari APBN itu dibawa kemana oleh orang – orang yang memegangnya? sebanyak kurang lebih (katanya) Rp 286 triliun anggaran pendidikan tahun 2012 itu seharusnya bisa memperbaiki banyak sekolah yang rusak di seluruh pelosok Indonesia Raya ini. Bisa membelikan buku - buku untuk menambah koleksi perpustakaan di sekolah agar anak - anak itu bisa membaca dan membuka matanya bahwa dunia di luar sana begitu sangat menakjubkan. Bisa menambah guru - guru pelajaran Bahasa Inggris yang (katanya) penting itu ke sekolah - sekolah kecil di desa sekedar untuk mengenalkan "ini loh Bahasa Inggris", juga sekalian memberdayakan lulusan - lulusan Pendidikan S1 yang (katanya) pintar itu untuk mengajar Bahasa Inggris itu. 

Lagi - lagi, jika harus membahas tentang anggaran membuat kisruh. Siapa yang harus disalahkan? si pembuat budget atau si penerima di masing - masing daerah? Entahlah. yang pasti, jika budget sebesar itu tidak dialokasikan dengan benar, maka suatu saat nanti entah negara Indonesia Raya ini mau jadi apa orang - orangnya. Sarana penunjung belajar saja minim, bagaimana bisa maju? Apakah cuma orang - orang kota saja yang boleh dan berhak maju? Pikiran sempit. Dan dari sinilah ketidakseimbangan bakal terjadi, dimulai dari sisi pendidikan, tentu saja merembet pada sisi - sisi yang lain. 


Saya tidak tahu kenapa harus membahas budget pendidikan ini. Tapi bagi saya ini penting untuk dibahas. Akar masalah dari ketidakseimbangan itu ada di sini. Coba saja kalau penggunaan anggaran itu rata dan pemerintah atau pihak berwenang jeli pada sekolah - sekolah pinggiran yang rusak. Coba saja antek - antek atau orang yang berwenang di daerah yang paling dekat cepat tanggap dan segera melapor pada ATASANnya, bisa membayangkan betapa kerennya kita jika seperti itu? Ada satu sekolah rusak, langsung dilaporkan dan langsung mendapat dana. Otomatis, bakalan keren. Tapi mimpi. Birokrasi yang berbelit - belit seperti sekarang rasanya semakin menjauhkan negara kita tercinta untuk maju. Yowislah, biar orang kota saja yang maju. Yang desa tinggal saja....seperti itu? ya sepicik itulah isi kepalamu. Mencerdaskan anak bangsa kok pilih- pilih tempat? Tidak ada yang tahu kan kalau suatu saat bakal menemukan mutiara tenggelam dari desa terbelakang?


Cukup, saya malas membahas tentang anggaran.

Sekolah rusak dan tidak layak memang mengingatkan saya pada film Laskar Pelangi. Di balik ketidaksempuranaan, keminiman, dan segala kekurangan itu selalu terselip intan permata sebagai penyempurna. Dimanapun ia berada, kapanpun ia tetap menjadi bunga, pahlawan, intan permata. Siapa lagi kalau bukan guru? Ada mereka di mata mereka, di mataku. 

Lihat saja sekolah di Nusa Tenggara tadi. Dengan kondisi yang menurutku sangat menyesakkan dada itu, masih ada sosok luar biasa yang berdiri menyangga tiang - tiang sekolah untuk tetap berdiri kokoh. Dia tidak akan pernah membiarkannya jatuh. Guru. Ada guru di sana. Ada Bapak Ibu Guru yang selalu menemani anak - anak itu untuk menjelajah dunia lewat matanya, lewat bahasanya. 

Seperti bara api abadi. Semangat guru. Ah saya melihat betapa sabarnya Bapak – Ibu guru itu membimbing anak didiknya di Nusa Tenggara yang kurang lebih belasan orang itu. Mereka bertahan karena nurani yang menyeret mereka harus tetap berada di sana. Demi mereka, demi anak – anak itu. Kalau bukan mereka yang tinggal, lalu siapa lagi? Yah, meskipun dengan keadaan seminim itu saya pikir semangat mereka terus tersulut demi menyulutkan juga api semangat anak didiknya tetap singgah dan belajar dari mereka.

Di Probolinggo, saya juga menemukan semangat yang sama. Atas nama pengabdian, mereka bertahan demi anak - anak itu. Demi senyum - senyum yang akan menjadi senyum luar biasa kelak, senyum sang penerus bangsa. Dengan keadaan yang kurang layak, mereka masih menerima dengan senang hati. Mereka, guru - guru luar biasa itu tetap berjalan di belakang anak - anak untuk mendorong mereka terus belajar agar tidak ketinggalan dengan anak - anak kota. Ada guru honorer yang menggelitik, mengusik daya pikir saya. Di tempat yang jauh dari kota, minim fasilitas seperti itu saja mereka masih mau bertahan dengan gaji kecil. Demi apa coba? Demi anak - anak itu. Demi senyum dan harapan yang selalu tergambar di mata anak - anak itu. Demi tugas mulia yang lahir dari dalam hati. Demi amanat yang ia pegang sedari awal mereka melakoni profesi itu. Jika mereka menginginkan gaji besar, tentu mereka akan segera meninggalkan anak - anak itu, meinggalkan si pemilik senyum - senyum bahagia ketika mereka datang membawakan buku dan mendongengkan macam - macam cerita. Tapi tidak, nyatanya dengan senang hati, atas nama berbagi, sebagai perantara dari Sang Pemilik Ilmu mereka tetap mengemban amanat itu. Menempatkannya dalam dada bahwa sebuah ketulusan akan dibayar sangat mahal, tidak di dunia, namun di akherat kelak. Kemuliaan dan keikhlasanmu akan menjadi bekal nanti, Bapak Ibu Guruku.

Pernah membaca sebuah kutipan "Sangat mustahil suatu bangsa bisa menjadi maju tanpa melakukan pemerataan dan peningkatan pendidikan-pengajaran." Dari kutipan itu jelas tersirat bahwa pendidikan melahirkan peradaban yang tinggi dan meningkatkan kualitas negara itu sendiri. Dan salah satu faktor penting untuk meningkatkan pendidikan adalah seorang guru. Tanpa guru, pendidikan hanyalah omong kosong saja. Guru sebagai agen peradaban dan memegang peran penting mengajari dan memotivasi anak didiknya untuk mencari dan mencintai ilmu kemudian mempelajari, menyimak, dan mengamalkannya kelak. 

Ada guru di mata mereka (ku), di setiap napas yang kami hela. Di setiap aliran ilmu yang terpaku di kepala. Diminimnya kurikulum pembelajaran yang ada, diketidakadaan internet dan semacamnya, juga buku - buku yang tidak banyak tertata rapi di perpustakaan, dikeadaan sekolah yang mengenaskan dengan hanya beralaskan tanah, beratap jerami, berdinding kayu, masih ada seseorang yang dengan kegigihannya menegakkan semangat, membuka lebar - lebar mata anak - anak untuk tetap duduk dan mendengarkan petuahnya. Dan sebaliknya, dikesempurnaan fasilitas, kecanggihan teknologi, kehebatan kurikulum, dan sarana pendidikan yang maju tidak akan ada artinya tanpa kehadiran seorang guru. Ya. Ada guru dimana - mana. Di mataku, di mata mereka.


Di setiap tumpu harapan yang mereka gantungkan demi anak didik mereka, ada doa yang mengalir lepas ketika malam tiba. Semoga, hidupmu jauh lebih baik nak. Kelak.....

Read more »

Lima

serentetan pikiran gila telah ku larungkan
bersama buih keperakan di bibir pantai
sekali saja ku tebas libas bersama pasir yang ku tendang
dengan kaki telanjangku
ah....
aku ingin bermain di sana,
denganmu seraya membungkus diri dengan ciuman,
dan pelukan sampai petang


Pikiran Gila, Surabaya 17 Oktober 2012
Read more »

Sephia


aku sephiamu....
aku menjadi labuhan keduamu ketika dermaga pertamamu tidak lagi memberikanmu ruang untuk bergerak bebas, seperti biasanya. menjadi tempat kedua bagimu untuk menghibur diri dari kejengahan yang datang di antara waktumu dan dia. tak apa. aku menikmati tempat kedua itu. bagiku, tempat kedua selalu membawa magis tersendiri. ada ketakutan namun kecenderungan rasa untuk tetap melakukan karena desakan nafsu setan lebih besar. ada iming - iming tantangan dan sesuatu yang mengasikkan yang membuat kita berkencan secara diam - diam. mencuri - curi kesempatan untuk saling menggandeng, meremas jemari, memeluk dan mencium di ruang - ruang bersekat kecil. ada gairah yang terus menggebu pun saat kita bercumbu dengan manis. ah, aku merindukan aroma musk yang keluar dari tubuhmu. pelukan dan gigitan kasar itu. semuanya. aku ingin melakukannya lagi. seperti dulu, dulu.....

aku sephiamu....
tapi aku tidak akan pernah melupakanmu seperti apa yang kamu minta dalam lagu itu. aku tidak akan kecewa jika malam ini kamu tidak datang dan memelukku semalaman. aku juga tidak akan pernah marah jika kamu tidak mencariku untuk merayumu di penghujung dentang dua belas malam. tidak apa-apa jika kamu memalingkan sayangmu padanya, aku rela... menjadi kedua memang seperti itu resikonya, dan aku sadar benar bahwa kamu tidak akan pernah mungkin meninggalkan wanitamu. maka dari itu, aku sadar diri. tahu tempat dan waktu dimana aku bisa menunggumu diam - diam dan menggali gairah bersama.

aku sephiamu....
dan hubungan kita memang hanya seperti ini, namun abadi... kau, kau akan terus mengenangku di balik mata segarismu. aku akan abadi mengalir di tiap luruh darahmu. aku akan senantiasa ada dan terkenang dalam dekap batinmu. aku yakin itu. seribu persen yakin. dan aku bahagia. akan sangat bahagia jika saja kau mampu memanggil namaku dalam satu masa tidurmu menggapai mimpi. menyebutku dalam ruang mimpimu saja sudah membuatku sangat bahagai. apalagi kalau kau mampu melafalkan rindu yang jelas tak mungkin itu.

aku sephiamu....
one nite stand, having fun together sepertinya membuatku sangat nyaman. bahkan sampai otakku berencana gila. aku ingin terus bersamamu, menggamitmu diam - diam dalam setiap kesempatan yang sebenarnya mustahil. sama seperti kemarin itu. dengan bebas, melenggang di depan ribuan pasang mata. bergelayut manja. ah, aku terus menginginkan itu....denganmu...

wish.... Tuhan, beri aku kesempatan untuk menjadi sephianya sampai tiba waktu yang tepat untuk melepaskannya, ah bukan... sampai waktu yang tepat ia melepasku. aku ingin ia yang melepasku.... bukan aku. aku ingin ia yang menginginkan hubungan gila ini berakhir. meskipun aku tahu, dalam benaknya memang hanya ada having fun saja....tapi aku tahu.... aku tahu ada ketakutan yang kadang melandanya ketika kami bersama. Aku GR? biar saja. aku tahu, dalam kepalanya hanya ada kata bersenang-senang. biarlah.... yang pasti aku Sephia yang Melekat di Jiwanya....
Read more »

October 16, 2012

Empat

Dee....
ingin ku jamahmu dengan beledu rindu
yang memasung urat-urat malu di leherku
biar....
biar tak sadarku pada bidik lihat sang pencaci
yang setiap waktu siap menerkam mati
tapi biar saja...
biar ku terus gelayutkan lembayung rindu ini,
kepadamu

Surabaya, di saat tidak mau tengkurap

Read more »

Aku gila


menyepakati perjanjian gila....yang sekarang ini telah ku langgar. secara terang-terangan kembali ku gamit dengan mesra lengan lelaki itu. meremas dengan gemas jari - jarinya yang sering basah. dan tanpa malu bergelayut manja di pelukannya.

menikmati keramaian tanpa ada pasang - pasang mata yang mengawasi. aku menyukainya sekaligus menikmati dengan bangga, bahwa tiada seorang pun yang kita kenal yang bakal melerai kecemasan yang kadang terpahat di masing - masing mata kita. apakah ada yang kenal? tidak. mereka tidak ada yang mengenal kita. jadi, lahan ini adalah ladang bagi kita untuk bersama.

menikmati matanya yang sipit namun menenggelmkan. menghirup aroma mint yang menguar dari lehernya yang membuatku jatuh tak berdaya. menggenggam mesra tangannya yang kadang berair. ah, sungguh indah. malam yang selalu ku nantikan. bisa bersamanya saat tidak ada seorang pun yang menyipit heran, sungguh aku menikmatinya. maka....

maka... rasa nyaman dan tenang itu kembali datang. juga ada rasa yang menohok kendali kepalaku, yang mengingatkanku pada satu kenyataan tak terbantahkan, dia milik wanita lain. aku? adalah selingkuhannya....bangga? tentu saja tidak. namun, namun aku suka seperti itu. lama - lama aku menikmati permainan gila ini. diam - diam bertemu di luar jamnya bersama wanitanya. ah, wanita macam apa aku?

wanita yang mendambakan hangat lelaki seperti dia. seperti dia, sesempurna dia. sampai aku menemukan pria seperti dia, maka aku akan dengan senang hati melepasnya. membiarkannya pergi bersama wanitanya. untuk sekarang, aku tidak bisa. bahkan dalam isi kepalaku, terbersit pikiran tolol. aku belum mau menikah ataupun punya pacar karena aku masih ingin bersamanya. masih ingin merangkai cerita - cerita gila yang tidak bisa dia lakukan bersama wanitanya.

biar saja aku gila. biar saja aku bodoh. aku buta, telah buta pada kenyataan menyakitkan itu. namun, namun aku menikmati semuanya. masih dengan senang hati menjadi keduanya. masih dengan senang hati menemaninya kala sepi. aku tidak peduli dengan embel-embel perempuan kedua. aku tidak akan pernah mendengar itu selama aku masih bisa bersamanya. terdengar konyol dan memuakkan bukan? hah.

wanita mana yang bakal rela kalau lelakinya bermain dengan wanita lain? itu urusan belakang. aku tidak peduli. selama rahasia tetap terjaga dengan baik, kita akan melanjutkan. meskipun terkadang aku iri dan ingin dirindukan. kapan kau akan bilang bahwa kau begitu merindukanku dan menginginkaku berada di sisimu?

Tuhan.... berikanku kesempatan untuk mencintainya, sekali lagi.




Read more »