February 9, 2016

Calon Masa Depan

Hei kamu ada dimana?
Sampai kapan kau menyembunyikan diri?
Rasanya aku sudah lelah mencari.
Bolehkah aku pergi?

Aku terus saja dilanda takut kalau suatu saat aku tak akan menemukanmu, calon masa depanku. Kenapa? Entahlah. Kau begitu asing ada di pikiran. Tak ada bayangan bagaimana wujudmu kelak. Akankah seperti mantan-mantan sebelumnya? Atau malah berbanding terbalik dari mereka?

Aku belum benar-benar pasrah andai saja beberapa kawan terdekatku belum berpasangan, melangsungkan pernikahan, dan bahkan telah mempunyai anak. Tapi rata-rata dari mereka telah berkeluarga. Lalu aku harus bagaimana? Dimana jodohku berada?

Ah...aku mulai lelah mencari di kota ini. Haruskah aku berkelana ke barat? Untuk mencarimu di sana?

Hei, calon masa depan. Aku pasrah saja padaNya. Aku harus bersabar. Mungkin kita belum ditakdirkan untuk berjumpa karena sama-sama belum pantas. Lagipula mungkin kita masih harus menyelesaikan beberapa masalah yang ada di hidup kita. Dan kemudian mungkin kita akan berjumpa secara tak sengaja setelah semua beban dan tanggungan hilang.

Aku tidak khawatir. Hanya saja sedikit lelah. Aku pasrah tapi aku tak akan lengah. Mari kita sama-sama saling mencari. Mungkin tiga bulan lagi kita akan bertemu di sebuah tempat diskusi.

Tertanda, L yang mencari jodoh.

Read more »

February 8, 2016

Kutukan (?)

Aku tak mungkin membencimu tanpa sebab. Aku tak mungkin menuliskanmu ke dalam daftar yang tak boleh diucap tanpa ada alasan yang tepat. Kau seperti kutukan. Membuatku ketakutan ketika akan memulai kisah percintaan.

Benar juga. Kau adalah pertanda kegagalan dalam berkisah. Romansa yang kukira akan berjalan lancar tanpa hambatan selalu berakhir dengan mengenaskan. Semua lelaki dengan pengawalan nama yang sama akhirnya hanya jadi mantan belaka.

Ada apa dengan "A"? Apes? Kukira terakhir kali aku menjalin kasih dengan pemuda bernama "A" akan berakhir bahagia, tapi nyatanya sama saja seperti sebelumnya. "A" pergi lagi. Meninggalkan kenangan menyakitkan. Aku ditinggal lagi bersama kesepian. Dan seperti tiga "A" sebelumnya, kau membuatku semakin membencimu tanpa ragu.

Bagiku sekarang tak akan ada lagi "A". Itu nama yang tak lagi boleh disebut. Katakan saja dalam kata kau-tahu-siapa. Sebab jika kuteruskan aku akan tetap menerima kutukan kegagalan. Sekarang aku sudah memasukkanmu ke dalam daftar penolakan. Jangan sekali-sekali mencoba mendekatiku, A. Atau kalau kau nekat akan kubuat sekarat. Konyol memang, tapi aku tak akan menanggapimu lagi, A. Biarkan abjad lain saja yang datang. Aku akan mengusirmu walau kau sangat tampan (wkwkwkwk)

Tertanda, L yang sangat membenci A.

Read more »

February 6, 2016

Cinta (?)

Dari bukit kecil bernama cinta aku bersua dengannya,
dan mengabdi pada lembah ketabahan mencinta.
Aku resah didauni gelisah yang jatuh pasrah di atas tanah.
Kenapa begitu gelisah?

Demimu kupenjara rasa.
Tak kering rinduku padamu lima ratus malam tanpa kepastian.
Rasanya lorong kepatuhan pada takdir pertemuan berikutnya begitu panjang.
Lalu sampai kapan aku harus berdiri menanti di ujung seberang?

Aku menyerah pada keagungan jarak yang tak tahu diri.
Pasrah kuhadapi.
Ingin kutimbun ingatan dengan segunung es himalaya agar aku lupa.
Tapi sia-sia saja, semua rasa tak kunjung sirna.
Datanglah. Segeralah mendatangiku
Biar aku bicara cinta.

Read more »

February 5, 2016

Desainer Masuk Surga

Hei hei...mataku memang mata wanita jeli yang bisa memandang mana makhluk rupawan dan mana yang bukan. Saking jelinya beberapa temanku menjulukiku si mata elang pencari pria idaman. Tapi sayang sampai detik ini aku belum menemukan dimana pria idamanku bersembunyi.

Setiap pergi kemanapun kepalaku tak pernah diam bergerak ke kiri dan ke kanan. Mataku tak pernah menuju pada satu arah. Bahkan ketika naik kendaraan umum atau kendaraan pribadi, mataku tak pernah diam.

Suatu ketika saat awan hitam sudah menggantung sangat dekat dengan tempatku, mengikuti perjalanku menuju terminal dengan mengendarai ojek online aku menemukan satu bentuk karya Tuhan yang luar biasa.

Sebenarnya aku tak ada niatan untuk melakukan kebiasaan celingak-celinguk ku ketika dalam suasana terdesak sebab hatiku cemas. Karena mungkin saja hujan besar akan turun sebelum aku sampai ke terminal. Namun ketika sampai di perempatan lampu merah, kepalaku diam terhenti di sisi kiri. Arah mataku mengunci obyek misterius di samping motor yang aku tumpangi.

Tepat suasana sore itu memang sedang ramai-ramainya karena jam pulang kantor. Tentu saja ditambah macet. Kecemasanku akan terlambat sampai terminal bertambah karena di samping akan hujan juga jalanan macet luar biasa. Kemudian semua rasa cemas hilang diganti oleh rasa penasaran pada makhluk hidup di sebelah.

Motornya matic mirip vespa. Rambutnya yang tipis panjang terurai sampai tengah punggung. Kulit tangannya putih bersih. Tunggu sebentar, aku curiga dia satu jenis denganku. Kemudian kuperhatikan kakinya, lumayan besar dan panjang. Tapi ini bukan kaki seorang perempuan. Tiba-tiba motor yang kunaiki bergerak pelan dan jreng....aku berhasil melihat kumis tipis beserta bibirnya yang berwarna merah jambu serta alis tebal yang hampir menyatu.

Ya Tuhan, ini laki-laki atau bukan? Sekali lagi kuperhatikan. Benar. Dia laki-laki tampan, rupawan, yang tentu saja menggoda iman. Dia bukan laki-laki sembarangan. Buktinya dia biarkan rambutnya menjuntai panjang. Jangan...jangan...dia....ENGGAK. Virzha Idol rambutnya juga panjang.

Kemudian mataku bergerak menuju helm yang dipakainya. Ada tulisan milintang di sisi kanan kepalanya yang sepertinya dicetak sendiri yang menarik perhatian yaitu Desainer Masuk Surga. Apa maksudnya? Apakah dia seorang desainer? Desainer apa? Baju? Grafis? Tapi apapun itu laki-laki ini sepertinya menyukai seni dilihat dari desain helm yang dipakai dan tulisan yang dibuat. Ya keduanya adalah bentuk seni, si pemakai adalah bentuk seni yang diciptakan Tuhan dan helmnya adalah buatan manusia. Sungguh indah. Aku terpesona dibuatnya.

Dan setelah itu juga entah kenapa setan dalam tubuhku melompat kegirangan. Senang bukan main dipertemukan oleh dia yang tak tahu darimana asal dan tujuan perjalanannya. Tapi tunggu sebentar, bukankah aku bisa melihat plat nomor sepeda motornya? Mungkin saja suatu saat aku bertemu kembali dengannya atau mungkin saja aku bisa melacaknya di kantor polisi (pikiran gila!). Dan tentu saja bisa melihat nomornya dengan hanya mengintip sedikit dari balik masker yang kukenakan. Konyolnya, sepanjang perjalanan menuju terminal aku menghapalnya. Benar. Menghapalnya karena tak bisa menuliskannya di memo handphone.

Kepada lampu merah yang menyala lama, biasanya aku memohon agar segera berganti hijau. Tapi kali ini tidak. Aku meminta agar tetap merah, agar aku lebih lama bisa menikmati karya cipta Tuhan yang luar biasa. Doaku tentu saja tak dikabulkan. Hanya sekitar 2 menit lampu merah berubah hijau. Dan kemudian motor miliknya melaju lebih kencang mendahului motor si driver ojek yang kutumpangi.

Aku sedih, tentu saja. Aku kehilangan dia. Tapi aku tak berkecil hati. Aku bahagia karena sempat menikmati salah satu bentuk keindahan seni.

Dan kepada si pemakai helm Desainer Masuk Surga yang mana tulisanmu adalah doa, bagiku kamu adalah surga sementara di dunia yang sebenarnya. Terimakasih telah membuatku takjub barang sekejap. Mari berjumpa kembali dan masuk ke surga bersama-sama.

Read more »

February 3, 2016

Kau Berhak Bahagia

Sudah kawan. Sudah cukupi ratapanmu pada lelaki itu, hentikan tangismu, hentikan rengekan untuk memintanya kembali. Sudah biarkan saja dia pergi. Kau berhak bahagia.

Lelaki itu telah meninggalkanmu sendirian menangisi perpisahan. Dia tak mengacuhkan segala alasan logis yang kau berikan. Dia tak bergeming dengan keputusan. Dia tak ingat bagaimana asam manis perjalanan enam tahun kebersamaan kalian. Dia tak sadar bahwa bahwa dirinya adalah cinta pertama yang kau agungkan. Dia lupa, kawan.

Kau berhak bahagia. Jangan menyakiti diri sendiri. Sulit memang untuk segera bangkit. Tapi kau punya aku, keluarga, dan teman-teman lain. Kami akan mendukungmu habis-habisan. Kami adalah barisan penyemangat yang akan siap sedia ketika kau butuhkan. Jangan jatuh terlalu dalam, kawan. Cintamu padanya jangan sampai menjerumuskan sampai kau lupa pada Tuhan yang menciptakan cinta diantara kalian.

Menangislah sesukamu, sepuas hatimu. Tapi jangan berlama-lama mengurung diri dalam kesedihan. Jangan dimanjakan. Obat terbaik untuk menyembuhkan luka adalah dirimu sendiri. Kaulah yang harus menguatkan diri, kaulah yang harus menciptakan pikiran positif untuk masa depan.

Hei...masa depanmu masih panjang. Tak ada guna menangisi lelaki yang tak pantas disandingkan denganmu itu. Kau bukan untuknya dan dia bukan untukmu. Tuhan Maha Adil, kawan. Jodoh telah Dia tetapkan sebelum kau dilahirkan. Jangan khawatir dan kebingungan. Bukankah selalu ada pelangi sehabis hujan?

Kau berhak bahagia, kawan. Bahagiakan dirimu sendiri agar luka segera hilang. Meskipun sulit untuk bangkit, bukan berarti waktu tak memihakmu bukan? Yakinlah, seiring berjalannya waktu luka-luka yang ada akan sirna. Bangkit dan buktikan pada semesta bahwa kau mampu bahagia tanpanya.

Read more »

Mimpi Yang Sempurna

Ada jembatan penghubung dalam ketidaksadaranku yang membawaku ke dalam sebuah pertemuan tak terduga di saat malam tiba. Mimpi itu. Ya, mimpi itu adalah pintu rahasia Tuhan dimana hanya Dia yang punya kuncinya.

Aku sudah tak lagi merindukanmu. Aku tak lagi mengharapkanmu sama sekali. Tapi dalam sekejap mata aku akan merasakan kebalikan dari keduanya ketika aku terbangun dari tidurku.

Mimpiku begitu sempurna karena ada kamu di situ. Semua begitu indah. Ada banyak hal yang tak kita lakukan ketika kita pernah bersama terjadi di dalam mimpi. Kita bahagia di sana. Ada banyak tawa. Ada cinta. Ada banyak adegan yang membuatku terheran-heran sampai harus bertanya kenapa, ada apa, bagaimana bisa ketika aku telah terjaga. Firasat yang tersirat dari kejadian di alam bawah sadarku bicara bahwa masih ada sesuatu yang tersisa. Namun bagaimana bisa saat kenyataan berkata bahwa kau telah meminang perempuan lainnya?

Sepuluh tahun telah berlalu dan kita sama-sama pergi ke jalan yang kita pilih sendiri. Terus terang aku ragu jika kau masih memikirkanku. Kau telah bahagia bersamanya. Sedangkan aku? Masih berkutat mencari kebahagiaan itu. Kau tak akan pernah tahu bahwa kau adalah mantan terindah yang pernah aku miliki.

Mantan terindah yang tak akan pernah digantikan posisinya oleh mantan lainnya. Satu-satunya mantan yang membuat hidupku menjadi seperti drama anak muda di layar kaca. Mengharapkanmu adalah satu bentuk kesemuan yang nyata. Kekasih pertama masa putih biru. Masa pertama dimana aku merasa memiliki dan dimiliki dengan bahagia. Segala kenangan masa muda belia yang sangat berharga telah kudapatkan darimu. Terimakasih, mantan terindahku.

Hei celaka, aku mulai merindukanmu karena mimpi-mimpi itu. Ada perlu apa mendatangiku? Masih adakah yang belum tuntas? Aku pikir tidak. Aku pikir ini hanya bunga tidur yang punya makna apa-apa seperti apa yang dikatakan oleh kebanyakan orang. Tapi aku penasaran, bagaimana bisa tanpa emosi apa-apa sebuah mimpi bisa tercipta?

Mungkin memang hanya Tuhan yang tahu bagaimana bisa mimpi itu datang ke dalam tidurku. Tuhan mungkin tak pernah menggariskan takdir kebahagiaan untukku bersamamu di dalam kenyataab hidupku. Namun Tuhan begitu sayang padaku sampai membiarkanku berbahagia denganmu di alam bawah sadarku. Kalau kusebut mimpiku yang sempurna adalah hadiah terindah atas perpisahan, tentu tak salah bukan?


Read more »

February 2, 2016

Untukmu, Aku.

Kau berpotensi. Kau cerdas. Kau bisa. Hanya saja kau terlalu takut untuk melangkah keluar dari dunia yang membuatmu nyaman. Ayolah, bangun!

Kau tak perlu takut untuk pergi dari situ. Kau tak perlu dengarkan apa yang orang lain katakan. Kau cukup menutup telinga dan membayangkan bahwa dunia luar akan jauh lebih menyenangkan dari duniamu sekarang.

Kau cukup menghapus kata-kata "bagaimana jika" dalam pikiranmu. Kau tak perlu ragu akan hal itu. Kau tak perlu banyak berpikir dan berangan akan kejadian yang belum tentu bakal ada di masa depan. Kau cukup lakukan apa yang harus dan bisa kau lakukan sekarang. Jangan ragu, sekali lagi jangan takut.

Jangan gundah. Jangan menangisi masa lalu yang membuatmu jatuh begitu dalam sampai kau melambat dan lupa bagaimana cara berdiri. Bersyukurlah karena "keterlambatanmu" membuatmu lebih dewasa dan tanggung jawab akan masa depanmu. Bersyukurlah karena kebohongan besar yang kau lakukan menyadarkan banyak orang bahwa sebenarnya kau terlalu peduli pada mereka. Tak tak perlu menyesali sampai menangis berhari-hari dan ingin mati karena kesalahan masa silam. Lihat, Ibu...Ayah...Kakak... dan segenap keluarga besar mendukungmu habis-habisan. Mereka tak marah atau bahkan memandang rendah dirimu. Mereka malah mengasihani. Mereka menyesalkan kenapa anggota keluarganya berkorban sebegitu besarnya demi menutupi beban yang dipikulnya. Mereka menyesalkan kenapa dirimu tak jujur dan membiarkan mereka membantu sebisa mereka.

Kau tak perlu berusaha untuk lari lagi. Kau tak perlu sembunyi. Hadapi dunia ini. Kau telah menciptakan masa lalu berharga untuk anakmu kelak. Kau telah mengukir sejarah untuk hidupmu. Kau telah mendapatkan banyak pelajaran bahwa di masa depan kau harus kaya, kau harus punya banyak uang agar anakmu bersekolah tak perlu bingung memikirkan biaya darimana dan harus bekerja paruh waktu demi membantu hidupnya hingga sekolahnya terlambat dengan sangat. Di masa depan kau harus jadi orang tua yang bersahabat, yang akan mengajarkan pada anak-anakmu agar tak takut pada kejujuran, kau harus jadi orang tua yang tak akan membuat anaknya merasa bahwa dirinya adalah beban. Maka dari itu, jadilah kaya akan harta dan jiwa.

Kau....adalah salah satu manusia beruntung yang diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk berbuat salah dan menyesali kesalahannya dan mampu berdiri untuk memperbaiki diri. Kau adalah manusia luar biasa yang diberikan amanah oleh Tuhan untuk menceritakan pada anakmu kelak bahwa ibunya pernah mengalami krisis, pernah salah, dan pernah ingin bunuh diri namun akhirnya sadar bahwa Tuhan begitu menyayangi hidupnya. Kau adalah manusia penuh rasa syukur karena memiliki orang tua yang begitu sayang, pengertian, dan memaafkan. Maka kelak, jadilah seperti mereka.

Untuk kamu, diriku sendiri...bergegaslah lari agar sepuluh tahun lagi kau berada jauh di depan mereka yang menggapmu tak bisa apa-apa.

Read more »

February 1, 2016

Mari Menjadi Asing

Aku menjauhimu. Kuputuskan untuk tak lagi memulai percakapan apapun denganmu. Aku takut, sebab jika aku mulai bicara aku akan menderita karena rasa sakit itu masih tersisa.

Tak bisa lagi kususun kata-kata gila untukmu. Tapi untuk hari ini, kenangan masa silam datang hingga membuat kepalaku menjelajah waktu. Mengupas kejadian memilukan sekaligus mengejutkan kala itu.

Hari ini tepat dua tahun yang lalu ketika aku menangisi kebodohan yang kuperbuat di stasiun kereta itu. Di kursi, sambil menunggu kereta yang akan membawaku pergi dari ibukota itu air mata tumpah ruah. Sakit hatiku mendengar kenyataan bahwa kau telah bersama perempuan dari masa putih biru yang jadi sahabatmu sejak dulu.

Kau tahu aku akan menangis. Kau tahu aku akan terluka. Tapi kau membiarkanku memiliki perasaan itu dan tak berusaha mencegahnya sama sekali. Tak pernah ada kata-kata untukku berhenti memiliki perasaan yang tak mungkin kau hiraukan.

Aku menyalahkanmu karena tak mampu meredam perasaan yang tak pernah jelas wujudnya. Aku membencimu karena tak mampu jujur tentang apa yang kau rasakan padaku. Semua semu. Kau terus saja begitu. Memperlakukanku seolah kau memiliki perasaan yang sama. Kau membiarkanku tumbuh dalam khayalan. Kau tak tegas atau kau hanya takut padaku karena aku lebih tua darimu?

Hari ini tepat ketika aku mengaku kalah atas cinta yang bertepuk sebelah namun malah merasa bungah karena kejutan kecil yang kau selipkan ke dalam tasku.

Hari ini, di dua tahun yang lalu aku berharap kau mencegahku untuk pergi. Hari ini, di dua tahun yang lalu ketika aku seolah menjadi tokoh cerita fiksi yang menangis di stasiun karena patah hati.

Hari ini, setelah dua tahun berlalu aku akan bilang bahwa semua telah kuakhiri meskipun tak mudah sama sekali. Meskipun aku terbiasa patah hati dan ditinggal pergi, tapi tak mudah untuk kali ini. Dan sampai saat ini kediamanku adalah cara terbaik untukku melupakanmu. Jangan mengajakku bicara agar aku tak terluka. Mari menjadi asing!

Read more »